Sukses

Kendalikan Rupiah, Kabinet Jokowi Harus Solid

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terus tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga ke level 13.396 per dolar AS. Sejak awal tahun rupiah telah melemah lebih dari 5 persen terhadap dolar AS. Kondisi ini dinilai Pengamat Ekonomi dari LIPI, Latif Adam karena faktor eksternal.

Saat dihubungi Liputan6.com, Jakarta, Selasa (9/6/2015), Latif mengatakan, faktor utama depresiasi kurs rupiah datang dari eksternal, khususnya isu kenaikan suku bunga Federal Reserve (Fed Fund Rate).

"Jadi para investor di instrumen keuangan melihat akan lebih menguntungkan bila investasi di AS karena ada kepastian minim risiko dan imbal hasil tinggi," ujar dia.

Namun di luar itu, ada juga penyebab pelemahan rupiah yang disebabkan dari dalam negeri. Latif menjelaskan, penyebab nilai tukar rupiah terus terpuruk karena realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang jauh dari ekspektasi pemerintah. Pada kuartal I 2015, ekonomi negara ini hanya mampu bertumbuh 4,7 persen.

Bahkan kata dia, Bank Indonesia (BI) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini menjadi 5,1 persen. Sementara patokan asumsi pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan 2015 sebesar 5,4 persen. 

"Pencapaian dan revisi target tersebut diterjemahkan investor bahwa ada yang salah dengan manajemen perekonomian kita. Manajemen ekonominya belum solid," ucapnya.

Penyebab lain, sambung Latif, kurs rupiah tertekan karena neraca transaksi berjalan Indonesia masih tercatat defisit, penerimaan pajak diperkirakan tidak akan tercapai di tahun ini sehingga ada potensi kenaikan risiko fiskal.

"Di luar ekonomi, stabilitas politik yang belum tuntas juga turut mempengaruhi. Koordinasi antara menteri satu dengan yang lain selama ini belum nyambung. Jadi investor menerjemahkan bahwa kabinet ini belum benar-benar solid," tegas dia.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) berada di kisaran 13.000 per dolar AS hingga 13.400 per dollar AS pada 2016. Tekanan terhadap rupiah akan lebih banyak dari faktor eksternal.

Gubernur BI, Agus Martowardojo menjelaskan, sentimen global menjadi penekan nilai tukar rupiah. Seperti tahun ini, pelemahan rupiah lebih banyak disebabkan oleh sentimen dari perbaikan ekonomi di Amerika Serikat yang berimplikasi pada penguatan dollar AS secara luas. Perbaikan ekonomi Amerika membuat dana-dana yang tadinya masuk ke negara berkembang seperti Indonesia ditarik kembali.

"Eksternal, didorong penguatan dollar AS. Kebijakan quantitave easing yang ditempuh bank sentral Eropa. Kemudian kekhawatiran negosiasi fiskal dari Yunani," ujar Agus. (Fik/Gdn)

Artikel Selanjutnya
IHSG Cetak Rekor Baru Sambut Libur Lebaran
Artikel Selanjutnya
Jokowi Bakal Ubah Daftar Negatif Investasi, Permudah Asing Masuk