Sukses

4 Jurus Jitu Investasi Emas

Liputan6.com, New York - Beberapa penelitian baru mengatakan, emas batangan akan menjadi komoditas kurang berharga dalam beberapa dekade ke depan. Tapi dalam sejarahnya, banyak hal tak terduga soal emas.

Memang, Anda tidak bisa menjalankan mobil pada emas. Anda juga tidak bisa memakannya. Investasi emas batangan tidak memberikan Anda dividen. Namun, setiap kali investor merasa gugup tentang aspek ekonomi global, permintaan emas akan meningkat.

Aksi pemerintah China menurunkan nilai mata uang yuan terhadap dolar AS beberapa waktu lalu, membuat harga emas melonjak tiga pesen dibanding awal Agustus lalu menjadi US$ 1.116 per ounce.

Kenaikan ini berbanding terbalik dengan kinerja emas sebelumnya yang mengalami penurunan sejak meyentuh US$ 1.900 per ounce pada Agustus 2011.

Lantas, apa yang seharusnya Anda pikirkan ketika berinvestasi emas? Money.com, Rabu (19/8/2015), memberikan empat strateginya:

1. Pikirkan psikologi investor

Emas adalah komoditas yang harganya mudah naik dan turun dalam jangka pendek serta menengah. Semua tergantung pada kondisi ekonomi global.

"Investor AS kurang berminat di emas saat ini karena tidak melakukan apa-apa untuk mereka," kata manajer USAA Precious Metals and Minerals, Dan Denbow. "Selama tiga tahun terakhir, investor lebih suka berinvestasi di saham Google dan Facebook."

Indeks saham gabungan Standard & Poor's 500 telah naik 10 persen dalam setahun terakhir, maka sedikit investor yang bernafsu pada logam mulia. Selain itu, Cina mengisyaratkan akan ada dukungan terhadap yuan setalah devaluasi, sehingga lonjakan permintaan emas akan surut.

2. Waspadai nilai dolar AS

Kekuatan dolar AS saat ini memberi hambatan bagi investor emas. Bank sentral AS, Federal Reserve telah membeli trilunan obligasi dan mempertahankan suku bunga jangka pendek di level nol persen. Hal ini membuat nilai dolar AS semakin melonjak.

Kenaikannya sekitar delapan persen terhadap euro selama setahun ini. Dengan tanda-tanda The Fed bakal menaikkan suku bunga dalam jangka pendek, maka sulit bagi investor untuk beralih ke emas dalam waktu dekat.

3. Lupakan soal mitos inflasi

Pemikiran konvensional mengatakan bawa emas dapat menjadi lindung nilai terhadap kenaikan harga. Contoh paling konkrit ketika Raja Babilonia, Nebukadnezar, memerintah pada 562 sebelum Masehi, harga satu ons emas bisa untuk membeli 350 roti. Jadi, harga emas kala itu sekitar US$ 3,14 per roti atau sama dengan membeli satu hamburger di restoran cepat saji saat ini.

Tapi Anda tidak akan hidup selama itu, sayangnya. "Cakrawala investasi manusia jauh lebih pendek. Emas tidak dapat diandalkan untuk memberi lindung nilai inflasi," kata profesor keuangan Duke University, Campbell Harvey.

Dalam 10 tahun ke depan, harga emas bisa turun banyak. Harvey dan koleganya, Claude Erb, menghitung, nilai wajar logam mulia ini adalah US$ 825 per ounce dan bisa jatuh serendah US$ 350 per ounce.

4. Diversifikasi portofolio


Jika Anda berinvestasi di emas, jangan mengalokasikannya sangat banyak. Denbow, manager investasi emas, menyarankan alokasinya tidak lebih dari 10 persen uang Anda.

"Investasi ini untuk hari hujan, ketika situasi geopolitik sedang meresahkan," kata Denbow. Ketika rasa takut datang, misalnya ketika krisis keuangan AS 2008, harga emas terus melonjak naik. (Elsa/Ndw)

Reporter: Elsa Analet

 

Artikel Selanjutnya
Tabungan Emas Pegadaian Laris Manis
Artikel Selanjutnya
Era Bunga Rendah, Ini 3 Investasi Jempolan Jelang Akhir 2017