Sukses

Selain Swasembada Daging, Kementan Prioritaskan Protein Hewani

Liputan6.com, Makassar Kementerian Pertanian (Kementan) tidak hanya menargetkan swasembada daging sapi namun juga menaruh perhatian pada kecukupan protein hewani lainnya. Ini sekaligus untuk menjawab kekhawatiran dalam memenuhi kecukupan protein di tengah mahalnya harga daging sapi.

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman mengatakan bahwa daging sapi merupakan salah satu makanan yang kaya akan protein. Menurutnya, pemenuhan protein hewani tidak hanya dari daging sapi, tetapi bisa juga berasal dari ayam, ikan, dan kambing.

”Untuk mencukupi kebutuhan protein masyarakat, tidak harus daging sapi. Ada sumber protein lain seperti ayam, ikan, dan daging kambing yang kaya akan protein,” kata Mentan saat memberikan keynote speechnya pada acara Focus Group Discussion mengenai Ketersediaan dan Stabilitas Harga Daging Sapi, Kamis (28/4) seperti dilansir dari website Kementerian Pertanian RI.

Lebih jauh Mentan menjelaskan di saat harga daging sapi yang melambung tinggi, kebutuhan protein bisa dipenuhi dari sumber protein tersebut. Sebagai perbandingan, kandungan protein yang terdapat dalam daging sapi sekitar 20 persen, sementara kandungan protein ayam 24 persen, ikan 17 persen, dan kambing 27 persen.

Meski demikian, Mentan menuturkan, Kementan telah melakukan beberapa langkah untuk memenuhi kecukupan kebutuhan sumber protein hewani masyarakat khususnya terkait daging sapi di tanah air. Dalam setahun terakhir misalnya, pemerintah telah mengurangi biaya sewa lahan perhutani untuk ladang pengembangan dari enam juta rupiah per hektar menjadi dua Rp 2.000 per hektar. Kedua, pemerintah menghilangkan biaya bea masuk impor indukan dari 5% menjadi 0%. Ketiga, merubah kebijakan impor dari country based menjadi zona based. Keempat, memberikan bantuan Inseminasi Buatan secara gratis pada tahun 2015 sebanyak 3,8 juta dan tahun 2016 diberikan 3 juta akseptor sapi betina.

Kelima, Kementan juga mengembangkan 50 Sentra Peternakan Rakyat (SPR). Ini untuk memudahkan pendataan dan monitor ternak sehingga dengan mudah mengetahui ketersediaan daging dan kondisi kesehatan sapi, dan memudahkan penyediaan pakan.

“Selain itu, SPR juga untuk memperbaiki manajemen bisnis sapi dan membangun kelembagaan peternak secara berkelanjutan,” terang Mentan.

Sementara itu, Pakar Pertanian Institut Pertanian Bogor, Rahmat Pambudi mengatakan pemecahan persoalan produksi memerlukan proses jangka panjang, sedangkan masalah pasokan dan stabilitas harga memerlukan penanganan jangka pendek. Oleh karena itu, pemerintah harus jeli membedakan dan memilah persoalan ini.

“Pemgembangan sapi itu butuh penyelesaian tersendiri bahkan tidak sama caranya. Ada jangka pendek dan jangka panjang,” tegas Rahmat.

Dalam pertemuan tersebut Dekan Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin, Sudirman Baso menyampaikan bahwa laju pemotongan sapi betina produktif dan tingkat kematian sapi pedet tinggi. Ia mengharapkan agar pemerintah turun tangan mengatasi permasalahan tersebut.

Terkait pentingnya kebutuhan protein, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, secara nasional rata-rata konsumsi protein penduduk Indonesia saat ini sebesar 53,91 gram per kapita per tahun, masih berada dibawah standar kecukupan konsumsi protein sebesar 57 gram. Rata-rata konsumsi protein penduduk tertinggi adalah di DKI Jakarta dengan 62,89 gram, sedangkan yang terendah terdapat di Papua dengan 39,45 gram.

(Adv)

Artikel Selanjutnya
RNI Bangun Rumah Potong Ayam Berkapasitas 2.000 Ekor per Jam
Artikel Selanjutnya
Bisnis Impor Daging di RI Menggiurkan, Ini Alasannya