Sukses

Indonesia Tak Bisa Andalkan Sumber Pertumbuhan dari Faktor Global

Liputan6.com, Jakarta Indonesia sudah tak bisa mengandalkan sumber pertumbuhan ekonomi dari faktor global. Pasalnya, pere‎konomian global saat ini sedang tidak menentu (volatil).

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan dalam kunjungan beberapa waktu lalu ke China, IMF sudah melakukan koreksi‎ ke bawah untuk pertumbuhan ekonomi global. Hal tersebut menunjukkan jika perekonomian global semakin tak menentu.

‎"Meskipun hanya direvisinya 0,1 persen, tapi tendensi bahwa revisi ke bawah ini terjadi sudah berulang-ulang secara berturut-turut. Ini menegaskan kondisi ekonomi global ini jauh dari cerah atau kondisi nya sedang gloomy atau suram," kata dia di Ritz Carlton Jakarta, Selasa (26/7/2016).

Parahnya, Bambang mengatakan kondisi perekonomian global saat ini semakin sulit diprediksi. Dia mengatakan pola perekonomian banyak mengalami perubahan terutama setelah krisis yang terjadi pada 2008.

"Ini terjadi setelah global financial crisis 2008. Di sini bisa kita lihat, global financial crisis Itu yang membuat kondisi sistem perekonomian dunia menjadi totally different," ujar Bambang.

Bambang mengatakan hal tersebut menjadi peringatan Indonesia. Maka dari itu, dia bilang salah satu cara menghadapi ketidakpastian global ialah memperkuat fundamental perekonomian dalam negeri.

Dia mengatakan, salah satu cara yang ditempuh ialah penerapan tax amnesty. Bambang melanjutkan tax amnesty mendorong adanya repatriasi sehingga perekonomian Indonesia lebih kuat.

‎"Meskipun pertumbuhan global tetap ada 3,1-3,2 persen tapi itu tanda-tanda bahwa global ini makin sulit mencari sumber pertumbuhan. Apalagi kalau kita lihat negara per negara, tidak ada satupun negara yang bisa menghindari volatilitas. Ini juga peringatan buat kita semua bahwa ekonomi Indonesia akan senantiasa berhadapan dengan volatilitas global," tandas dia.

Artikel Selanjutnya
Menko Darmin: 72 Tahun Merdeka, Ekonomi RI dalam Kondisi Baik
Artikel Selanjutnya
BI Ramal Ekonomi Dunia Membaik di 2018