Sukses

Daftar Maskapai Terburuk di Dunia, Indonesia Ada?

Liputan6.com, Jakarta Ketika Anda bepergian menggunakan pesawat untuk liburan atau urusan kerja pasti mengharapkan kenyamanan dan pelayanan yang baik. Namun terkadang kenyataan tidak sesuai dengan harapan.

Terkadang pada kenyataannya masih banyak dijumpai kekurangan-kekurangan layanan dari maskapai seperti buruknya pelayanan staf, delay pesawat yang sangat lama hingga buruknya sistem boarding pesawat.

Melansir laman Escapehere.com, Jumat (26/8/2016), ada beberapa maskapai yang dinilai menjadi yang terburuk di dunia. Dalam daftar yang dirilis oleh Skytrax, kebanyakan maskapai tersebut hanya mendapat rating bintang maksimal 2 atau dalam standar bisa dibilang sangat buruk.

Lalu maskapai apa saja yang disebut sebagai yang terburuk di dunia? Simak ulasannya berikut: 

10. Pakistan International Airlines

Image result for Pakistan International Airlines

Maskapai ini terkenal dengan keterlambatan. Pakistan Airlines hanya mendapat rating 2 bintang saja dari riset Skytrax. Setiap bulannya pesawat ini hanya terbang sebanyak 3.000 kali sangat jauh berbeda dengan maskapai lain seperti US Airways yang melayani 90.000 penerbangan setiap bulannya. Dan performanya dari tahun 2015 hingga kini hanya mendapat rata-rata sebesar 37,53 persen.

9. Ryan Air

Image result for Ryan Air

Istilah 'ada harga ada rupa' sangat berlaku bagi maskapai yang berbasis di Dublin, Irladia ini. harga tiket yang sangat murah sangat sebanding dengan pelayanan yang buruk.

Mulai dari kursi penumpang yang sangat tidak nyaman, dan pesawat ini mengurangi jumlah toilet di dalam pesawat hanya untuk menambah jumlah kursi penumpang.

Jika Anda ingin pindah ke kursi lain maka Anda akan dikenai bayaran tambahan. Itulah yang menyebabkan Ryan Air menjadi salah satu yang terburuk di dunia.

8. China Eastern Airlines

Image result for China Eastern Airlines

Maskapai yang berbasis di Shanghai, China ini terkenal sebagai maskapai yang sering membatalkan penerbangan dan delay yang sangat lama. Indeks ketepatan waktu dari maskapai ini hanya 53.87 persen.

Setiap bulannya China Eastern Airlines melayani 50.000 penerbangan. Dengan jam penerbangan yang cukup sibuk diharapkan pelayanan pun akan meningkat, tapi nyatanya sama saja merugikan penumpang.

7. Lion Air

Image result for Lion Air

Pertama diluncurkan pada tahun 1999, maskapai Indonesia yang berbasis di Jakarta ini terkenal akan harga tiketnya yang murah untuk pergi keluar negeri seperti Singapura, Malaysia, Vietnam, Saudi Arabia, China dan Hong Kong.

Walaupun murah, Lion tidak menjadi yang terbaik sebagai pilihan masyarakat. Selain kasus penggunaan narkoba oleh pilot dan kru Lion Air, pada tahun 2011 Lion menjadi maskapai dengan tingkat keterlambatan mencapai 80 persen.

Selain itu pilot Lion juga positif menggunakan methamphetamine dan dipenjara karena penyalahgunaan narkoba, padahal beberapa setelah itu ia dijadwalkan untuk terbang ke Surabaya.

6. SmartWings

Image result for SmartWings

Maskapai yang berbasis di Praha, Republik Ceko ini banyak mendapat ulasan negatif dari penumpangnya, mulai dari banyaknya biaya tambahan, pembatalan penerbangan secara tiba-tiba dengan tidak memberikan pilihan untuk booking ulang, dan lainnya.

Skytrax hanya memberikan 2 bintang dari keseluruhan pelayanan, online check-in, pelayanan informasi, kebersihan kabin dan area kedatangan penumpang.

1 dari 2 halaman

Bulgaria Air

5. Spirit Airlines

Image result for Spirit Airlines

Spirit Airlines menjadi satu-satunya maskapai milik Amerika Serikat yang mendapat rating bintang 2 dari keseluruhan pelayanan. Harga murah yang ditawarkan tidak sebanding dengan pelayanan.

Seperti biaya tambahan untuk menambahkan barang di bagasi dan tidak ada pengembalian dana yang disebabkan oleh pelayanan buruk maskapai seperti delay ataupun pembatalan pesawat.

Skytrax memberi rating yang sangat kecil dalam segi hiburan, kebersihan kabin, antusiasme staf hingga respon staf dalam menghadapi delay dan pembatalan pesawat.

4. Nepal Airlines

Image result for Nepal Airlines

Maskapai kecil yang mengudara secara nasional di Kathmandu hanya diberi rating 2 bintang oleh Skytrax karena buruknya produk dan kualitas pelayanan dan 1 bintang diberikan karena ketidaknyamanan pesawat saat mengudara, toilet, situs perusahaan yang tidak banyak membantu.

Tingkat ketepatan waktunya hanya 34 persen, tingkat pembatalan penerbangan mencapai 32 persen. Dari hasil itu Nepal Airlines dilarang untuk terbang ke negara Uni Eropa.

3. Pegasus Airlines

Image result for Pegasus Airlines

Pegasus Airline adalah maskapai terbesar kedua di Turki. Maskapai ini menjadi yang termurah untuk rute Eropa pada tahun 2013 dan 2014. Pegasus hanya mengoperasikan satu pesawat tanpa hiburan dan makanan selama perjalanan.

Skytrax memberikan rating bintang 3 karena walaupun beotu Pegasus Airline masih memiliki staf yang memberikan pelayanan dan mampu menangani delay serta pembatalan pesawat lebih baik. Tapi dalam segi hiburan dan kecakapan kru kabinnya, maskapai ini mendapat rating di bawah 2 bintang.

2. Bulgaria Air

Image result for Bulgaria Air

Maskapai ini masih tergolong baru karena beroperasi pada 2002. Maskapai yang berbasis di Ibukota Sofia ini terkenal lebih mengutamakan kepuasan konsumen daripada keamanan, ini tidak membuahkan hasil apa-apa karena banyak terjadi kecelakaan dimana Bulgaria Air gagal landing di wilayah udara Amerika Serikat karena kurangnya perlengkapan keamanan untuk insiden semacam ini.

Skytrax hanya mmeberikan rating bintang 2 untuk keseluruhan dari kurangnya hiburan dalam penerbangan, kurang responsifnya staf dalam memenuhi permintaan penumpang dan pelayanannya yang juga buruk.

1. Air Koryo

Image result for Air Koryo

Pesawat milik Korea Utara ini menjadi satu-satunya maskapai yang mendapat rating bintang 1 dari Skytrax. Ada banyak alasan mengapa Air Koryo menjadi yang terburuk salah satunya karena buruknya sistem check-in, kenyamanan, kecakapan kru kabinnya dalam berbahasa asing, kurang responsifnya staf terhadap permintaan penumpang dan masih banyak lainnya.

Air Koryo juga dilarang untuk terbang hingga negara Uni Eropa karena alsan keamanan yang tidak memenuhi standar. (Nabila/Gdn)