Sukses

Sri Mulyani: APBN Jadi Pelindung Ekonomi RI

Liputan6.com, Jakarta Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyatakan, pemerintah akan menjaga pertumbuhan ekonomi nasional di atas 5 persen lewat desain Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang seimbang, realistis, dan kredibel. Dengan begitu, APBN diharapkan dapat menjadi pelindung ekonomi Indonesia supaya tidak terseret arus pelemahan global.

Sri Mulyani menyimpulkan, ekonomi Indonesia masih‎ dalam kondisi baik. Namun dalam dua tahun terakhir (2014-2015), terjadi pelemahan di beberapa sektor usaha akibat pelemahan ekonomi dunia. Ia menambahkan, paling dramatis melihat realisasi pertumbuhan ekonomi di setiap kuartalnya.

Pelemahan ekonomi, dijelaskan dia, bukan berasal dari dalam negeri, melainkan ekspor impor, perubahan kebijakan di dunia, seperti rencana kenaikan suku bunga The Fed, gejolak geopolitik dan geoekonomi, Brexit, pemilu di negara maju sampai kasus perbankan yang dapat berpengaruh terhadap negara berkembang.

"Kondisi ini tecermin dalam pelemahan kurs rupiah selama dua tahun terakhir sehingga menggerus daya beli masyarakat akibat imported inflation. Faktor dari luar merembes masuk mempengaruhi kepercayaan," ujar Sri Mulyani di Jakarta, seperti ditulis Jumat (28/10/2016).

Sri Mulyani lebih lanjut mengatakan, perekonomian nasional mulai pulih ‎di kuartal IV ‎2015. Pemerintah berupaya melanjutkan perbaikan ekonomi pada tahun ini melalui anggaran yang ekspansif.

"Tema di 2016 mengelola pemulihan yang masih sangat awal dari situasi yang relatif berat di 2014 sampai paruh kedua 2015. Kemudian dilanjutkan pada 2017 untuk menjaga pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen," jelasnya.

Itu artinya, Sri Mulyani menyebut APBN merupakan instrumen untuk melindungi ekonomi Indonesia dari gejolak dan pelemahan global supaya tidak merembes masuk ke dalam negeri. "Kita gunakan APBN untuk melindungi gejolak itu supaya tidak melemah. APBN jadi pelindung ekonomi kita," tegas dia.

‎Menurutnya, dalam rangka merangsang pertumbuhan ekonomi, pemerintah mendesain APBN yang seimbang antara penerimaan dan belanja negara. Targetnya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional 5,1 persen di 2017.

"Ini merupakan suatu asumsi yang seimbang‎, karena kita ingin menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Jadi harus terus-menerus dipantau sehingga tidak menyebabkan pelemahan ekonomi. Tapi kebijakan ekspansif tetap dikelola dengan prinsip kehati-hatian," ujar Sri Mulyani.

Diakui Sri Mulyani, APBN dan menjaga pertumbuhan ekonomi ibarat lari maraton. Belanja negara didesain lebih produktif untuk pembangunan infrastruktur, kesehatan, pendidikan, mengurangi kemiskinan, memitigasi bencana alam, dan kegiatan produktif lainnya sehingga dilakukan efisiensi belanja barang.

"Jadi bukan lari sprint, tapi lari marathon. Staminanya harus dijaga terus menerus relatif panjang karena fiskal harus jadi penataan pelemahan global dan stimulus di dalam negeri," tutur Sri Mulyani.

Artikel Selanjutnya
Ribut Kenaikan Anggaran DPR, Ini Jawaban Sri Mulyani
Artikel Selanjutnya
Sri Mulyani: RI Utang untuk Kejar Ketertinggalan di Infrastruktur