Sukses

Petani Lebih Untung Tanam Sawit Daripada Sagu di Lahan Gambut

Liputan6.com, Jakarta Pemerintah melalui Badan Restorasi Gambut (BRG) meminta petani mulai menanam sagu dan jelutung di lahan gambut.

Namun, himbauan ini dinilai kurang tepat karena potensi tanaman sagu dan jelutung secara ekonomi dinilai tak akan mampu menandingi kelapa sawit apabila tanaman tersebut sama-sama dibudidayakan di lahan gambut.

Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) Tungkot Sipayung mengatakan pada dasarnya tanaman apapun dapat dikembangkan di lahan gambut dengan teknologi ekohidro farming.

Sebagaimana Undang-Undang No 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman, petani bebas memilih tanaman apapun yang menguntungkan baginya.

“Saat ini pilihan petani ya sawit yang menguntungkan menurut petani. BRG dan siapapun harus menghormati pilihan petani itu,” kata dia dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (2/12/2016).

Menurutnya, sagu dan jelutung belum ada bukti emperis menguntungkan petani. Buktinya, tidak ada petani yang mengembangkan kedua tanaman itu.

“BRG perlu membuktikan secara emperis bahwa sagu dan jelutung menguntungkan petani. Jika untung petani pasti pilih,” dia menjelaskan.

‎Menurut Tungkot, saat ini pasar sagu dan jelutung belum ada atau tidak terjamin. Kondisi ini tidak seperti sawit. petani dengan mudah bisa menjual TBS (tandan buah segar).

Setiap minggu petani panen dan bisa menjual TBS sehingga tersedia pendapatannya untuk membiayai keluarganya. Pendapatan tiap pekan tersebut berlangsung sampai 25 tahun ke depan.

“Apakah sagu atau jelutung mampu mengimbangi sawit dalam menghasilkan income seperti sawit tersebut? Belum dan tidak akan mampu,” tandas Tungkot.

Hingga saat ini Tungkot juga tidak melihat adanya industri pengolahan pati sagu dan getah pohon jelutung. Sebab memang penggunaan pati sagu maupun getah pohon jelutung tersebut belum banyak dimanfaatkan oleh masyarakat.

Itulah mengapa pasar sagu maupun jelutung ini sangat kecil dan terbatas. Hingga saat ini pun, di dunia tidak ada yang mengembangkan secara komersial kedua komoditas tersebut.

“Kalau BRG mengajak petani tanam sagu dan jelutung berarti ajak petani ke jurang kemiskinan. Karena saat ini hanya sawitlah yang pasarnya sangat besar,” tukas Tungkot.

Sementara  Guru Besar Ilmu Tanah Universitas Sumatera Utara Abdul Rauf juga mengatakan, potensi tanaman sagu dan jelutung secara ekonomi tak akan mampu menandingi kelapa sawit apabila tanaman tersebut sama-sama dibudidayakan di lahan gambut.

“Jelutung maupun sagu memang cocok ditanam di lahan gambut, tetapi potensi ekonominya tetap jauh di bawah sawit. Jadi kebijakan BRG itu perlu dipertanyakan, karena baik jelutung maupun sagu itu secara ekonomi tidak feasible,” ujar dia.

Menurutnya, dalam merumuskan kebijakan, hendaknya BRG melihat secara komprehensif. Walaupun budidaya sagu maupun jelutung tersebut sukses, belum tentu bisa menyejahterakan masyarakat.

Alasannya, pasar atau permintaan akan pati sagu dan getah dari kayu pohon jelutung saat ini masih kecil. Sehingga dengan demikian harganya pun dipastikan akan murah.

“Itu dari sisi pasar. Belum yang dari sisi teknologi untuk mengolah pati sagu dan getah kayu jelutung saat ini juga belum siap. Intinya, perlu dana besar untuk mengembangkan kedua komoditas ini sehingga hasilnya bisa feasible,” kata Abdul Rauf.

Dia menyarankan kepada pemerintah agar fokus saja pada komoditas yang selama ini telah terbukti memberikan kontribusi besar bagi bangsa ini sehingga tidak coba-coba mengembangkan tanaman lain yang belum tentu berhasil.