Sukses

Mengenal Herman Johannes, Sosok Pahlawan yang Hiasi Uang Rp 100

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) akan menerbitkan 11 uang rupiah baru pada 19 Desember 2016. Gambar pahlawan akan menghiasi uang baru tersebut. 

Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Uang BI Suhaedi menjelaskan, uang rupiah kertas yang akan diterbitkan terdiri dari nilai nominal Rp 100 ribu, Rp 50 ribu Rp 20 ribu, Rp 10 ribu, Rp 5.000, Rp 2.000, dan Rp 1.000.

"Sedang uang rupiah logam terdiri atas pecahan Rp 1.000, Rp 500, Rp 200, dan Rp 100," jelas dia seperti dikutip dari laman Setkab.go.id, Sabtu (17/12/2016).

Untuk uang rupiah baru pecahan Rp 100 logam, gambar pahlawan yang dipilih adalah Herman Johannes. Pemilihan gambar pahlawan dilakukan melalui proses focus group discussion (FGD) dengan sejarawan, akademisi, instansi terkait (Kemenkeu, Kemensos), dan pemda.

“Pemilihan gambar pahlawan memperhatikan prioritas provinsi yang belum terakomodasi dalam uang rupiah, pahlawan yang berjuang di lingkup nasional, mempunyai dampak besar, dan nilai patriotisme; serta memiliki ketokohan seperti nama pahlawan sudah digunakan sebagai nama fasilitas umum,” ujarnya.

Lalu, siapakah Herman Johannes yang gambarnya bakal terpampang dalam uang rupiah baru pecahan Rp 100 logam tersebut?

Herman Johannes mendapat anugerah gelar Pahlawan Nasional dari Presiden Yudhoyono dalam rangka peringatan Hari Pahlawan 2009. Ia adalah pria kelahiran Rote, Nuta Tenggara Timur pada 28 Mei 1912.

Ia pernah menjabat Rektor UGM pada 1961 hingga 1966. Ia juga pernah menjadi Koordinator Perguruan Tinggi (Koperti) pada tahun 1966 hingga 1979.

Herman juga pernah menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) RI tahun periode 1968-1978 dan Menteri Pekerjaan Umum pada 1950-1951.

Meski lebih banyak dikenal sebagai pendidik dan ilmuwan, Herman Johannes tercatat pernah berkarier di bidang militer. Keahlian Herman Johannes sebagai fisikawan dan kimiawan ternyata berguna untuk memblokade gerak pasukan Belanda dalam agresi militer pertama dan kedua.

Letkol Soeharto sebagai Komandan Resimen XXII TNI yang membawahi daerah Yogyakarta meminta Herman Johannes memasang bom di jembatan kereta api Sungai Progo. Karena ia menguasai teori jembatan Johannes bisa membantu pasukan Resimen XXII membom jembatan tersebut. 

Herman Johannes juga ikut serta dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 yang menyerbu kota Yogyakarta di pagi buta dan bisa menduduki ibukota Republik selama enam jam.(Gdn/ndw)

Artikel Selanjutnya
BI Sumut Siapkan Uang Baru Rp 4,3 Triliun untuk Puasa dan Lebaran
Artikel Selanjutnya
BI dan TNI Distribusikan Rupiah Baru di 10 Wilayah Terpencil