Sukses

Pertumbuhan Industri Asuransi Makin Kinclong di 2016

Liputan6.com, Jakarta Industri asuransi mengalami pertumbuhan yang signifikan sepanjang 2016. Hal ini terlihat dari tingginya total pendapatan asuransi, baik asuransi jiwa, umum, maupun syariah.

Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia Hendrisman Rahim mengatakan, total pendapatan industri asuransi jiwa di kuartal III 2016 meningkat sebesar Rp 158,65 triliun atau naik 78,1 persen dibandingkan periode yang sama pada 2015. Sedangkan dari jumlah investasi telah mencapai Rp 386,18 triliun atau meningkat 25,7 persen dari 2015 yang sebesar Rp 307,29 triliun.

"Peningkatan pertumbuhan tersebut ditopang oleh meningkatnya saluran distribusi bancassurance, produk asuransi yang ditawarkan melalui layanan perbankan," ujar dia dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (30/12/2016).

Pemasaran melalui bancassurance, lanjut Hendrisman, dinilai relatif lebih mudah dilakukan karena pasar yang dibidik adalah nasabah perbankan yang lebih memahami beragam jenis jasa keuangan. "Apalagi, kini sejumlah bank BUMN yang menggaet mitra strategis telah menunjukkan kinerja terbaik," lanjut dia.

Sementara itu, Pengamat dan Praktisi Perasuransian, Kapler Marpaung menyatakan, kerjasama bank BUMN dengan mitra strategis menjadi kunci pertumbuhan industri asuransi. Seperti, BNI Life Insurance, anak perusahaan PT Bank Negara Indonesia Tbk yang menorehkan kinerja yang positif setelah Join Venture dengan Sumitomo Life.

"Pada 2015, BNI Life tumbuh 124 persen dan pada kuartal I 2016 PT BNI Life Insurance mencatat pendapatan mencapai Rp 907 miliar atau tumbuh di atas 20 persen dari periode yang sama di 2015," kata dia.

Begitupula dengan PT AXA Mandiri Financial Services (AXA Mandiri). Kinerja anak usaha PT Bank Mandiri (Persero) Tbk itu terus melonjak. Pada 2014, AXA meraih laba bersih sebesar Rp1,2 triliun dan mencatat kenaikan total premi sebesar 33 persen

Sementara itu, bank BUMN besar lainnya yaitu PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) dikabarkan juga tengah serius dalam mengembangkan bisnis asuransinya melalui anak perusahaan Bringin Life. Sempat berencana menggaet mitra strategis untuk mengembangkan produk bancaassurance, namun pada Januari 2016, BRI disebut menunda proses penjualan 40 persen saham perusahaan asuransi Bringin Life.

Dalam laporannya, pemilik perusahaan asuransi FWD Group, Hanwha Life Insurance Co. dan BNP Paribas Cardif sudah menawar saham Bringin Life dengan harga US$ 400 juta-US$ 500 juta. Dalam proses tender tersebut dikabarkan FWD group meraih peringkat pertama diikuti BNP Paribas Cardif dan Hanwa Life Insurance Co. Namun, hingga kini belum kepastian BRI mengenai penjualan Bringin Life.

Menurut Kapler, jika BRI sebagai induk usaha jadi menjual 40 persen saham anak usahanya di bidang asuransi tersebut ke mitra strategis, maka akan mendongkrak kinerja. Sebab, market asuransi jiwa di Indonesia masih sangat besar dan perlu penanganan pihak swasta yang telah memiliki kesiapan yang memadai.

"Menurut saya akan semakin kinclong kinerjanya. Sebab market asuransi Jiwa di Indonesia masih sangat besar. Segmen itu hanya bisa di raih dengan manajemen, SDM, produk, distribusi dan IT yang unggul," jelas dia.

Kapler memperkirakan, kinerja Bringin Life bisa semakin merangkak naik seperti kompetitornya yaitu BNI Life Insurance yang telah terlebih dahulu melakukan kerjasama dalam bentuk strategic partnership dengan Sumitomo Life Company, yang merupakan perusahaan asuransi jiwa ketiga di Jepang dan termasuk jajaran top 25 perusahaan asuransi terbesar dunia ini.