Sukses

Dolar Melemah, Harga Emas Cenderung Stabil

Liputan6.com, Jakarta Harga emas berjangka cenderung stabil pada level tertinggi dalam 3 pekan lebih, di tengah pelemahan dolar menyusul catatan yang dikeluarkan oleh Bank Sentral The Federal Reserve dalam pertemuannya.

Catatan dari bank sentral itu menunjukkan bahwa Pejabat The Fed melihat ada potensi kenaikan suku bunga lebih cepat dari biasanya. Pada pertemaun 14 Desember lalu, The Fed menaikkan suku bungayang kedua kalinya dalam satu dekade terakhir.

Suku bunga tinggi bisa berdampak negatif pada emas, yang cendderung mendapatkan keuntungan dari mereka yang menderita kebijakan moneter. Tapi dolar AS memperpanjang pelemahannya, yang berdampak positif pada emas.

Emas untuk pengiriman Februari dijual US$ 1.165,30, diperdagangkan sebentar setelah catatan the Fed. Harga itu sudah mendapatan keuntungan US$ 3,30 atau 0,3 persen untuk sesi perdagangan untuk menetap di level US$ 1.165,20 per ounce, penetapan harga tertingi sejak 12 Deseber.

"Ada mix yang menarik dari ketidakpastian dan perhatian dari kondisi ekonomi yang sedang terjadi dan ini membantu komoditas emas," ujar Bill Baruch, kepala Pasar Strategis di iiTrader dilansir dari Marketwatch, Kamis (5/1/2017).

Pada November lalu, menyusul kemenangan Trump atas Hillary Clinton, harga emas anjlok 7,8 persen. Tertinggi kedua lebih dari 12 persen sejak Juni 2013. Sisi baiknya, logam ini mencatatkan pengembalian (return) 8,6 persen di 2016.

Tapi, beberapa periset pasar percaya bahwa logam akan jatuh lebih jauh di tengah ekspektasi kekuatan lebih lanjut dalam ekuitas yang berlebihan, yang dapat mengatur panggung untuk rebound dalam logam mulia.

Artikel Selanjutnya
Harga Emas Naik di Tengah Kekhawatiran Soal Suku Bunga
Artikel Selanjutnya
Dolar Tergelincir Bikin Harga Emas Capai Posisi Tertinggi