Sukses

Optimisme Kesepakatan OPEC Dorong Kenaikan Harga Minyak

Liputan6.com, New York - Harga minyak naik pada penutupan perdagangan Kamis (Jumat pagi waktu Jakarta), melanjutkan penguatan yang terjadi pada perdagangan sebelumnya. Pendorong kenaikan harga minyak adalah sentimen dari optimisme produsen minyak utama akan mengurangi produksi.

Mengutip Wall Street Journal, Jumat (6/1/2017),harga minyak mentah jenis light sweet untuk pengiriman Februari naik 50 sen atau 0,9 persen ke US$ 53,76 per barel di New York Mercantile Exchange. Sedangkan harga minyak Brent, yang merupakan patokan global, ditutup naik 43 sen, atau 0,8 persen ke angka US$ 56,89 per barel.

Harga minyak terus melonjak ke level tertinggi dalam 18 bulan terakhir setelah organisasi negara-negara pengekspor minyak (OPEC) dan 11 negara penghasil minyak utama di luar OPEC sepakat untuk memangkas produksi secara kolektif dimulai pada awal 2017 ini.

Kesepakatan OPEC ini merupakan kesepakatan pertama dalam delapan tahun terakhir yang diperkirakan bakal berjalan dengan baik. Sebelumnya, sebagian besar kesepakatan OPEC hanyalah janji-janji semata.

"Saat ini pasar sedang menunggu seberapa baik OPEC dan non-OPEC akan mematuhi kesepakatan yang telah dibuat," jelas Presiden Lipow Oil Associates, Houston, AS, Andy Lipow.

Arab Saudi sebagai eksportir terbesar minyak dunia sepakat untuk memangkas produksi 486 ribu barel per hari. Langkah dari Arab Saudi ini membantu mengangkah harga minyak dalam dua hari terakhir.

Sedangkan The U.S. Energy Information Administration melaporkan bahwa stok minyak mentah di Amerika Serikat (AS) turun lebih besar dari yang diperkirakan sebelumnya.

Untuk periode pekan yang berakhir pada 30 Desember, stok minyak mentah di AS turun 7,1 juta barel. Sedangkan perkiraan para analis penurunannya hanya berkisar di dua juta barel saja. (Gdn/Ndw)