Sukses

Laju IHSG Perkasa di Pekan Pertama Januari 2017

Liputan6.com, Jakarta - Mengawali pekan pertama Januari 2017, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak positif. Namun, investor asing masih melakukan aksi jual di pasar saham.

Mengutip laporan PT Ashmore Assets Management Indonesia, IHSG naik 0,9 persen dari level 5.296 pada akhir pekan lalu menjadi 5.347 pada 6 Januari 2017. Penguatan IHSG didorong sejumlah saham antara lain saham LQ45 naik 1,7 persen. Sementara  itu, indeks saham berkapitalisasi kecil MSCI cenderung tertekan. Indeks saham MSCI Small Cap merosot 1,6 persen.

Investor asing melakukan aksi jual sekitar US$ 36 juta pada pekan pertama Januari 2017. Analis PT Reliance Securities Lanjar Nafi menuturkan, investor asing cenderung melakukan aksi ambil untung usai menguat signifikan pada akhir tahun lalu. Aliran dana investor asing masuk ke pasar modal Indonesia baru terjadi pada akhir pekan ini yang nilainya mencapai Rp 126,85 miliar.

Di pasar surat utang atau obligasi terjadi sebaliknya. Investor melakukan aksi beli mencapai US$ 15 juta di pasar obligasi.

Ada sejumlah sentimen pengaruhi pasar modal sepanjang pekan pertama Januari 2017 baik eksternal dan internal. Dari eksternal, hasil rilis pertemuan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve menenangkan pasar. The Federal Reserve akan menaikkan suku bunga secara bertahap. Imbas dari sentimen itu membuat indeks tingkat kecemasan investor di bursa saham AS turun menjadi 7,8 persen.

Data ekonomi AS pun bervariasi. Jumlah tenaga kerja AS mencapai 153 ribu pada Desember 2016, dan angka ini lebih rendah dari konsensus di kisaran 175 ribu. Sedangkan klaim pengangguan lebih rendah menjadi 235 ribu pada 2016. Indeks data manufaktur di level 54,1.

Dari Asia, bank sentral China berusaha untuk menjaga nilai tukar yuan. Hal itu mengingat aliran dana investor asing cukup besar keluar dari China. China membatasi transaksi valas sekitar US$ 50 ribu setiap tahun. Bank sentral China tetapkan yuan di kisaran 6,86 terhadap dolar AS.

Dari data ekonomi Indonesia,defisit anggaran Indonesia mencapai 2,46 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka ini lebih besar dari target 2,35 persen.

Pendapatan pajak mencapai Rp 1.283 triliun dan pendapatan non pajak tercatat Rp 262 triliun. Jumlah pendapatan itu merepresentasikan 86,6 persen dari target 2016. Sedangkan total belanja mencapai Rp 1.859 triliun. Angka itu merepresentasikan 89,3 persen dari total belanja 2016.

Badan Pusat Statistik (BPS) juga melaporkan inflasi 2016 mencapai 3,02 persen. Kontribusi inflasi disumbangkan dari transportasi, komunikasi.

2017 Diliputi Ketidakpastian

Dalam laporan Ashmore menyebutkan kalau pasar global akan dibayangi peristiwa politik terutama pemilihan umum di Eropa terutama Jerman dan Prancis. Selain itu, kebijakan suku bunga bank sentral AS juga masih akan bayangi pasar keuangan global.

Apalagi bank sentral AS menyatakan akan menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali pada 2017. Pimpinan bank sentral AS Janet Yellen juga dinilai akan lebih agresif untuk menghadapi ketidakpastian kebijakan presiden AS Donald Trump.

Meski demikian, Indonesia masih akan stabil ekonominya ke depan. Hal itu masih ditunjang dari ekspor komoditas.

Artikel Selanjutnya
Konsumsi Pertamax Cs dan Pertalite Meningkat di Jalur Mudik
Artikel Selanjutnya
Genjot Produksi, Inalum Bikin Hujan Buatan