Sukses

Melihat Peluang Investasi Saham pada 2017

Liputan6.com, Jakarta - Investasi di pasar modal terutama saham diprediksi menarik pada 2017. Hal itu akan ditopang dari pertumbuhan ekonomi global dan fundamental ekonomi Indonesia cukup baik.

Head of Intermediary PT Schroders Investment Management Indonesia Teddy Oetomo melihat, presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang cenderung mendorong pertumbuhan ekonomi sehingga membuat inflasi dan suku bunga naik berdampak negatif untuk surat utang atau obligasi Amerika Serikat.  Namun, hal itu dapat berimbas positif untuk pasar saham.

"Kalau bicara surat utang, kalau negaranya tidak bangkrut maka kita dibayar. Negara dan perusahaan mencatatkan laba bersih 10,20 persen, 30 persen dan 100 persen maka dibayarnya sama (obligasi). Kalau dunia bergerak ke pertumbuhan maka lebih baik di saham. Pertumbuhan laba 10,20,30 persen maka beda harganya. Saya melihat tahun depan pertumbuhan laba bersih di kisaran 13-15 persen dengan PER (price earning ratio) 14. Lebih menarik di saham dari pada bond," jelas Teddy saat berbincang dengan Liputan6.com, seperti ditulis Kamis (12/1/2017).

Ia menambahkan, sentimen positif untuk pasar modal Indonesia terutama saham juga didukung fundamental ekonomi Indonesia. Hal itu didukung dari nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terjaga dan inflasi di bawah kisaran lima persen pada 2017. Selain itu, Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,1 persen pada 2017, dan diperkirakan dapat tercapai. 

Teddy melihat justru salah satu kendala yang menghambat laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yaitu faktor perspektif. "Yang dihadapi Indonesia  pada 2017 bukan fundamental namun persepektif sentimen. Kita paling sering disentimenkan. Kalau secara fundamental posisi cukup bagus. Tinggal bisa tidak kita jaga sentimen terhadap Indonesia," kata dia.

Adapun pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pilkada) pada 2017, Teddy melihat sentimen itu berimbas sedikit ke pasar modal Indonesia. Namun, memang pelaksanaan Pilkada biasanya meningkatkan konsumsi masyarakat. Hal ini juga bisa menjadi penopang kinerja emiten.

Untuk sektor saham yang jadi pilihan, Teddy memprediksi sektor saham konsumsi, konstruksi dan infrastruktur masih menarik pada 2017. Sektor saham tersebut menjadi pilihan lantaran didukung dari daya beli masyarakat dan program pemerintah masih mendorong pembangunan infrastruktur.

Sedangkan sektor tambang yang mencatatkan performa baik pada 2016, Teddy melihat pergerakan sektor saham tambang sulit ditebak. Lantaran harga komoditas bisa dapat menguat cepat, dan sebaliknya. Meski demikian, Teddy menuturkan, harga komoditas yang cenderung naik masuk semester II 2016 tidak serta merta berdampak ke pergerakan harga sahamnya.

"Harga komoditas naik bergejolak sekali naik cepat. Sebetulnya apakah perusahaan tambang dapat benefit? Tidak. Kontrak desain awal tahun.  Semoga harga komoditas menyeluruh membaik karena bukan hanya batu bara, di Indonesia juga ada sawit. Harga rata-rata  diharapkan tahun 2017 lebih tinggi dari 2016," tutur dia.

 

 

 

 

 

 

Pandangan dan opini yang terdapat didalam adalah pendapat dari Teddy Oetomo, Head of Intermediary, dan belum tentu mewakili pandangan yang diungkapkan atau mencerminkan pendapat dari PT Schroder Investment Management Indonesia ("Schroders Indonesia"). 

Materi ini tidak dimaksudkan untuk memberikan, dan tidak boleh diandalkan sebagai rekomendasi akuntansi, nasihat hukum atau pajak, atau investasi. Informasi di sini diyakini kebenarannya akan tetapi Schroders Indonesia tidak menjamin kelengkapan atau akurasinya. Hal ini tidak mengesampingkan atau membatasi setiap tugas atau kewajiban yang Schroders Indonesia miliki terhadap nasabah kami yang diatur oleh Undang-Undang dan Peraturan di Indonesia. (Disclaimer)

 

Artikel Selanjutnya
Ini Tantangan Bawa Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 6 Persen
Artikel Selanjutnya
Menakar Prospek Portofolio Investasi pada 2017