Sukses

Kemendag Diminta Lobi Mesir Batalkan Kenaikan Bea Masuk

Liputan6.com, Jakarta Badan Pusat Statistik (BPS) meminta Kementerian Perdagangan (Kemendag) bernegosiasi dengan pemerintah Mesir terkait penerapan kenaikan tarif bea masuk impor hingga 6 kali lipat.

Kebijakan tersebut dinilai dapat mengganggu ekspor komoditas maupun barang-barang non migas dari Indonesia ke Mesir.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Sasmito Hadi Wibowo mengatakan, meskipun beberapa industri di Indonesia mulai ekspansi dengan membangun pabrik ‎di Mesir supaya bisa menembus pasar Eropa dan Afrika, namun banyak dari eksportir lokal yang masih harus berjibaku memasok produk dari dalam negeri ke Mesir.

"Jadi kalau bea masuk di Mesir naik, maka pemerintah harus negosiasi perdagangan supaya jangan melakukan usaha seperti itu, seperti restriksi (hambatan) perdagangan, naikkan pajak, bea masuk," saran Sasmito saat berbincang dengan Liputan6.com, Jakarta, Selasa (17/1/2017).

Dia mengatakan, apabila tarif bea masuk naik tinggi, maka harga barang-barang ekspor dari Indonesia meningkat di pasar Mesir. Jika harga terlalu mahal, permintaan masyarakat Mesir terhadap produk Indonesia berkurang, dan akhirnya barang ekspor itu tidak laku.

"Jadi kita harus pro aktif, khususnya Kementerian Perdagangan dan Kementerian Luar Negeri, negosiasi. Kita saja sering dinegosiasi kalau mau melakukan restriksi perdagangan. Harusnya kita bisa melakukan hal yang sama dengan negara lain," ujar dia.

Menurut Sasmito, ekspor Indonesia ke Mesir paling banyak berupa komoditas, seperti minyak‎ kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan batu bara.

Sementara itu, kenaikan tarif bea masuk impor yang ditetapkan pemerintah Mesir dari semula 10 persen-40 persen menjadi 20 persen-60 persen atau naik 2-6 kali lipat dari taarif sebelumnya yang diatur melalui Perpres Nomor 25 Tahun 2016.

Berdasarkan data BPS yang diterima, ekspor non migas Indonesia ke Mesir pada Desember lalu meningkat menjadi US$ 128,16 juta dibanding periode sama 2015 sebesar US$ 118,90 juta dan US$ 86,92 juta di November 2016.

Sedangkan total nilai ekspor non migas ke Mesir sepanjang Januari-Desember 2016 mencapai US$ 1,11 miliar atau turun tipis 5,23 persen dari realisasi US$ 1,17 miliar di periode yang sama 2015.

‎Adapun 15 komoditi utama ekspor non migas Indonesia ke Mesir sepanjang 2016, antara lain, lemak dan minyak hewan nabati, serat staple buatan, karet, kopi dan teh, kertas dan barang dari kertas, kayu dan barang dari kayu, reaktor nuklir, kakao, serat filament, bubur kertas dari kayu, kimia organik, tembakau dan industri tembakau, mesin dan peralatan listrik, plastik dan bahan dari plastik, serta pakaian jadi. (fik/Nrm)

Artikel Selanjutnya
Ekonom Minta Pemerintah Hati-Hati Naikkan Cukai Rokok di 2018
Artikel Selanjutnya
Bahas Kenaikan Cukai, DJBC Akan Bertemu Produsen Rokok