Sukses

Uji Coba Rudal Korut Bikin Bursa Asia Bervariasi

Liputan6.com, Tokyo - Bursa Asia diperdagangkan bervariasi setelah Korea Utara (Korut) menggelar uji rudal terbarunya pada akhir pekan lalu dan menyatakan jika rudalnya berhasil membawa hulu ledak nuklir.

Melansir laman CNBC, Senin (13/2/2017), indeks Australia ASX 200 diperdagangkan naik 0,48 persen, didukung sub-indeks energi, yang naik 1,49 persen.

Sementara indeks Nikkei Stock Average naik 0,4 persen, setelah data pemerintah menunjukkan bahwa ekonomi Jepang tumbuh pada tingkat tahunan sebesar 1,0 persen pada kuartal keempat. Ini didukung penguatan ekspor dan belanja modal.

Pasar juga dipengaruhi pertemuan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe dengan Presiden Donald Trump selama akhir pekan lalu. Pertemuan ini dilaporkan berlangsung lancar.

Trump menegaskan kembali komitmen AS untuk membela Jepang melalui berbagai kemampuan militernya, baik nuklir dan konvensional. Hal ini juga dikatakan tak tergoyahkan.

Sementara indeks Kospi Korea Selatan turun 0,07 persen, karena pasar bergulat dengan uji coba rudal Korea Utara yang berlangsung pada hari Minggu pagi.

Korut menembakkan rudal balistik ke laut sebagai bentuk uji coba pertama sejak Presiden Trump terpilih. Ini akan menjadi ujian pertama dari janji Trump.

Kementerian Keuangan Korea Selatan mengatakan akan bertindak cepat mengambil langkah seiring adanya tanda-tanda volatilitas di pasar, yang terpicu antara lain kasus di sektor keuangan serta peluncuran rudal Korea Utara tersebut.

Kasus dimaksud yang terjadi di perusahaan elektronika terbesar Jepang, Samsung. Pemimpin Samsung Group Jay Y. Lee dipanggil kembali kejaksaaan untuk memberikan pertanyaan lebih lanjut atas tuduhan suap terkait dengan skandal politik yang melibatkan Presiden Park Geun-hye.

Bulan lalu, Lee diinterogasi selama lebih dari 22 jam, tapi pengadilan menolak mengeluarkan surat perintah untuk penangkapannya.

Artikel Selanjutnya
Pasca-Uji Coba Nuklir Korut, Trump Setuju Jual Senjata ke Korsel
Artikel Selanjutnya
Korut Uji Coba Nuklir, 3 Perusahaan Ini Justru Makin Tajir