Sukses

Begini Cara Pertamina Produksi Pertalite

Liputan6.com, Jakarta - PT Pertamina (Persero) menyatakan pembuatan Bahan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite telah memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan Pemerintah dan dilakukan pada tempat yang baik.

Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro mengatakan, ‎Pertalite diproduksi dengan proses yang memenuhi kaidah standar industri dan pengendalian mutu yang terjamin. Hal itu membuat produk yang dihasilkan memenuhi spesifikasi yang ditetapkan pemerintah, dibuat pada fasilitas pengolahan minyak (kilang) dan fasilitas pencampuran.

"Dalam proses pengujiannya kami melibatkan Gaikindo dan lembaga konsumen serta tim penguji independen, yaitu Institut Teknologi Bandung," kata Wianda, di Jakarta, Senin (13/2/2017).

Wianda melanjutkan, untuk proses pembuatan pada fasilitas pencampuran, dilakukan dengan dua teknik. Pertama, inline blending yaitu melalui pipa pengisian BBM ke tangki di New Gantry System dengan komposisi tertentu. Kedua, in tank blending atau proses pencampuran dilakukan di dalam tangki penimbunan.

"Artinya, Pertamina sangat serius dan menjamin kualitas produk Pertalite yang diproduksikan dan dipasarkan kepada konsumen," tutur dia.

Sepanjang 2016, penjualan Pertalite sebagai varian baru produk bensin mencapai 5,8 juta Kilo Liter (KL). Hal ini menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap bahan bakar dengan RON 90 tersebut.

Sebagai produk resmi Pertamina, Pertalite menjadi pilihan baru bagi konsumen yang memiliki ekspektasi spesifikasi lebih tinggi namun dengan harga yang relatif terjangkau. Penerimaan pasar terhadap Pertalite juga luar biasa besar. Pada Januari 2016, Pertalite masih terjual sekitar 3.500 KL per hari, namun pada Desember penjualan mencapai sekitar 33 ribu KL per hari.

"Sepanjang tahun lalu total volume penjualan Pertalite mencapai 5,8 juta KL. Hingga saat ini penjualan Pertalite terbukti terus mengalami tren peningkatan," ujar dia.

Pertalite, bersama dengan Pertamax Series telah menggerus penjualan Premium dari semula di kisaran 80 ribu KL per hari menjadi sekitar 45 ribu KL per hari. Penurunan tersebut terjadi secara alamiah karena adanya pergeseran pola konsumsi bahan bakar di masyarakat konsumen.

"Sekarang jika melihat SPBU Pertamina, banyak konsumen ramai menunggu giliran pengisian pada dispenser Pertamax dan Pertalite. Pemandangan seperti itu terjadi di hampir semua SPBU, kendati Premium masih disediakan," ujar Wianda.