Sukses

11,52 Juta Turis Kunjungi RI Selama Setahun, Terbanyak dari China

Liputan6.com, Jakarta - Badan‎ Pusat Statistik (BPS) melaporkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia sebanyak 11,52 juta sepanjang 2016. Realisasi kunjungan turis di tahun lalu masih jauh dari target yang ditetapkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebanyak 12 juta kunjungan wisman.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, jumlah kunjungan wisman ke Indonesia pada Desember 2016 sebanyak 1,11 juta kunjungan ‎atau mengalami kenaikan 12,87 persen dibanding periode yang sama 2015 sebanyak 986,5 ribu kunjungan. Sedangkan dibanding November 2016 yang sebesar 1 juta wisman, realisasi jumlah turis di Desember lalu naik 11,07 persen.

"Jadi wisman yang lewat 19 pintu utama mencapai 978,7 ribu kunjungan dari total 1,11 juta kunjungan di akhir tahun lalu. Sedangkan sisanya 134,6 juta kunjungan melalui di luar 19 pintu utama," tutur dia di kantornya, Jakarta, Kamis (16/2/2017).

Suhariyanto menyampaikan, total kunjungan turis ke Indonesia selama setahun lalu mencapai 11,52 juta kunjungan atau naik 10,69 persen dibanding realisasi 2015 yang sebanyak 10,41 juta kunjungan. ‎Terdiri dari 10,57 juta kunjungan wisman ke Indonesia yang masuk melalui 19 pintu utama, dan 948,99 ribu kunjungan lewat luar 19 pintu utama.

Namun pencapaian kunjungan turis asing ke Indonesia di tahun lalu sebanyak 11,52 juta kunjungan masih jauh dari target yang dipatok 12 juta wisman pada 2016.

‎"Itu karena kita menghitung 11,52 juta kunjungan wisman ke Indonesia selama 2016 dengan menggunakan data roaming di pos lintas batas non TPI (Tempat Pemeriksaan Imigrasi) hanya di Oktober. BPS tidak menghitung dari Januari-September 2016," jelas Suhariyanto.

"Seandainya yang Januari-September dihitung, maka akan menambah sekitar 4 persen. Tapi BPS tidak menambah ekstrapolasi, kita mengimplementasikannya sejak Oktober 2016, sehingga total turis asing 2016 tanpa ekstrapolasi Januari-September yakni 11,52 juta," lanjut Suhariyanto.

BPS bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata berupaya meningkatkan kualitas data wisman melalui data roaming ponsel atau metode Mobile Positioning Data (MPD) mulai Oktober 2016. Artinya, sambung dia, hanya untuk pos-pos lintas batas yang tidak mempunyai pos pemeriksaan imigrasi (TPI), BPS menghitungnya menggunakan metode roaming.

"Mempertimbangkan kondisi geografis Indonesia‎ dengan puluhan ribu pulau, ada pos lintas batas yang terpencil, agak berbeda dengan negara-negara di Eropa, jadi kita perlu mendeteksi kunjungan wisman menggunakan data roaming," dia menerangkan.

Suhariyanto menyebut, ada 79 pos lintas batas yang tersebar di 29 Kabupaten di Indonesia. Dari jumlah itu, kondisi pos perbatasan di 10 Kabupaten sudah sangat bagus sistem pencatatan kunjungan wisman karena ada pos pemeriksaan imigrasi.

"Sedangkan 19 pos lintas batas lainnya belum ada pos imigrasi, jadi kita kesulitan merekam pergerakan wisman. Makanya pakai data roaming supaya bisa terdeteksi," ucapnya.

Dari 11,52 juta kunjungan wisman ke Indonesia melalui 19 pintu utama yang sebesar 10,41 juta kunjungan di 2016, kata Kecuk, paling banyak berasal dari China sebanyak 1,43 juta kunjungan. Posisi kedua ditempati turis Singapura yang melakukan kunjungan ke Indonesia sebanyak 1,42 juta atau turun dari realisasi 2015 sebanyak 1,56 juta kunjungan.

Peringkat ketiga diduduki Australia dengan mencatatkan kunjungan wisman ke Indonesia 1,18 juta kunjungan turis pada tahun lalu. Sementara Malaysia dan Jepang di urutan keempat dan kelima, mengunjungi Indonesia dengan masing-masing 1,18 juta kunjungan dan 468,11 ribu kunjungan turis. (Fik/Gdn)

Artikel Selanjutnya
Harga Emas Stabil Terpicu Penguatan Dolar dan Pertemuan The Fed
Artikel Selanjutnya
Peran Indonesia Masih Minim di Pasar Syariah Dunia