Sukses

Pemerintah Tak Boleh Terlena Kenaikan Harga Komoditas

Liputan6.com, Jakarta Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan realisasi kinerja ekspor Indonesia pada Januari 2017 naik signifikan 27,71 persen menjadi US$ 13,38 miliar dibanding periode yang sama 2016 senilai US$ 10,48 miliar. Faktor pendorongnya karena perbaikan harga komoditas.

Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede mewanti-wanti pemerintah untuk tidak terlena dengan kenaikan harga komoditas yang mulai merangkak naik, seperti minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan batubara.

"Pemerintah diharapkan tidak terlena dengan kenaikan harga komoditas primer, seperti CPO dan barubara," ujar dia saat dihubungi Liputan6.com, Jakarta, Jumat (17/2/2017).

Josua menyarankan pemerintah terus mendorong kebijakan hilirisasi industri sehingga meningkatkan nilai tambah komoditas ekspor. Imbauan tersebut mempertimbangkan tantangan perdagangan internasional di tahun ini, terutama yang datang dari China dan Amerika Serikat (AS).

"Volume ekspor dari China berpotensi menurun karena rebalancing ekonomi mereka, serta potensi pembatasan barang ekspor karena kebijakan perdagangan internasional AS di bawah pemerintahan Donald J. Trump," katanya.

Dia pun meminta pemerintah melakukan diversifikasi negara tujuan ekspor Indonesia sehingga dapat menjaga volume ekspor nasional di 2017 dan tahun-tahun mendatang.

Terpisah, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution mengatakan, peluang untuk menambah volume ekspor caranya dengan mencari pasar ekspor baru. Pemerintah mempunyai kebijakan tersebut.

"Tapi kan mencari market baru tidak mudah, pelan-pelan. India contohnya, punya pasar sangat besar, selain itu ada Pakistan, Iran, Nigeria, Afrika Selatan, dan beberapa negara di Afrika yang penduduknya sampai 50 juta jiwa," jelas dia.

Pemerintah, menurutnya, telah melakukan upaya menyasar pasar tujuan ekspor dalam kurun waktu enam bulan ini. Sebut saja India yang memiliki ceruk pasar besar dengan pertumbuhan ekonomi yang bagus.

"India pertumbuhan ekonominya memang bagus, yang terbaik di dunia saat ini. Sehingga impornya naik lebih cepat, walaupun itu sesuai dengan maunya kita, tapi kita tidak berani mengklaim bahwa itu karena perubahan kebijakan mengingat kita baru mengusahakannya enam bulan ini," tutur Darmin.

Artikel Selanjutnya
RI Bisa Manfaatkan Peluang dari Kebijakan Ekonomi Donald Trump
Artikel Selanjutnya
Tanpa Kebijakan Ekstrem Trump, Ekonomi RI Tumbuh 5,3 Persen