Sukses

Intip Kinerja Waskita dan Adhi Karya Sepanjang 2016

Liputan6.com, Jakarta - Dua perusahaan konstruksi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) telah merilis kinerja 2016 yaitu PT Adhi Karya Tbk (ADHI) dan PT Waskita Karya Tbk (WSKT).

Dilihat dari laba, PT Waskita Karya Tbk (WSKT) mencatatkan kinerja baik sepanjang 2016. Perseroan membukukan laba yang diatribusikan ke pemilik entitas induk tumbuh 63,51 persen menjadi Rp 1,71 triliun pada 2016 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 1,04 triliun.

Pendapatan naik 68,08 persen menjadi Rp 23,78 triliun pada 2016 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 14,15 triliun. Laba kotor perseroan naik 106 persen menjadi Rp 3,96 triliun.

Perseroan mencatatkan kenaikan beban umum dan administrasi menjadi Rp 755,12 miliar pada 2016 dari periode 2015 sebesar Rp 480,43 miliar. PT Waskita Karya Tbk memperoleh pendapatan bunga naik 157 persen menjadi Rp 187,48 miliar.

Dengan melihat kondisi itu, laba per saham perseroan naik menjadi 147,47 pada 2016 dari periode 2015 di kisaran 90,18. Perseroan mencatatkan liabilitas naik menjadi Rp 44,66 triliun pada Desember 2016. Ekuitas perseroan tercatat Rp 16,77 triliun.

Sementara itu, PT Adhi Karya Tbk (ADHI) membukukan laba yang diatribusikan ke pemilik entitas induk turun 32,40 persen menjadi Rp 313,45 miliar pada 2016. Namun, pendapatan naik 17,83 persen menjadi Rp 11,06 triliun. Laba kotor perseroan tumbuh 14,41 persen menjadi Rp 1,15 triliun.

Sedangkan laba usaha naik 19,20 persen menjadi Rp 728 miliar pada 2016. Perseroan mencatatkan penurunan pendapatan lainnya menjadi Rp 141,99 miliar pada 2016 dari periode 2015 Rp 271,57 miliar. Beban umum dan administrasi naik menjadi Rp 433,90 miliar. Dengan melihat kondisi itu, laba per saham perseroan turun menjadi 88,03 pada 2016 dari periode 2015 di kisarna 202,83.

Perseroan mencatatkan liabilitas sebesar Rp 14,65 triliun pada 31 Desember 2016. PT Adhi Karya Tbk kantongi kas sebesar Rp 3,3 triliun.

1 dari 2 halaman

Rekomendasi Saham

Analis PT First Asia Capital David Sutyanto menuturkan, kinerja PT Waskita Karya Tbk naik signifikan didorong bisnis yang dijalankan cukup ekspansif sepanjang 2016 terutama di jalan tol. Saat ini, perseroan memiliki 14 konsesi tol. Dari konsesi itu, dua ruas tol yakni Kanci-Pejagan dan Pejagan-Pemalang telah beroperasi. Sebagian besar konsesi jalan tol itu beroperasi pada 2018.

Selain itu, perseroan menurut David memiliki kontrak mencapai Rp 100 triliun. Perseroan masih menggarap kontrak lama atau kontrak bawaan (carry over) senilai Rp 34 triliun.

PT Waskita Karya Tbk juga melakukan divestasi atau penjualan 29 persen di PT Waskita Karya Toll Road ke PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) dan PT Taspen. Total nilai transaksi mencapai Rp 3,5 triliun.

"Ekuitas tambahan sebesar Rp 3,5 triliun akan mendorong Waskita untuk menjadi lebih aktif dalam mengembangkan proyek sedang berjalan serta ikut tender jalan tol baru," ujar David.

Meski demikian, David melihat perseroan sangat agresif untuk ekspansi usaha. Oleh karena itu,ia menilai perlu kehati-hatian untuk ekspansi bisnisnya. Apalagi David menilai, Waskita sebagian besar menggarap proyek BUMN dan pemerintah. "Mereka belum diversifikasi usaha," tutur David.

Sementara itu, Analis PT NH Korindo Securities Bima Setiaji menuturkan, kinerja PT Adhi Karya Tbk terutama laba bersih merosot lantaran perolehan kontrak yang di bawha target. Perseroan memperoleh kontrak baru Rp 16 triliun pada 2016 dari target sekitar Rp 25 triliun. Selain itu, perseroan merevisi target kontrak baru jadi Rp 17 triliun.

Untuk 2017, David yakin PT Waskita Karya masih mencatatkan kinerja baik. Hal itu didukung dari ekspansi jalan tol dan kontrak baru. "Kami merekomendasikan beli untuk saham PT Waskita Karya Tbk dengan target harga Rp 3.300 dalam 12 bulan ke depan," tutur dia.

Sedangkan Bima menilai, PT Adhi Karya Tbk akan diuntungkan dari proyek light rail transit (LRT) pada 2017. PT Adhi Karya Tbk (ADHI) telah menandatangani kontrak LRT Jabodetabek senilai Rp 23,4 triliun. Bima menilai, proyek itu akan untungkan PT Adhi Karya Tbk. Ditambah proyek Adhi Karya cukup beragam antara lain 35 persen dari pemerintah, 35 persen dari BUMN, dan sisanya swasta.

"Termin pembayaran kalau tidak salah masih dalam pembahasan namun diharapkan selesai akhir Maret 2017. Dengan penandatangan kontrak itu, Adhi Karya sudah dapat mengakui pendapatan pembangunan sebagian LRT dan dapat mempercepat proses yang ada sekarang," ujar Bima saat dihubungi Liputan6.com.

Ia menambahkan, salah satu hal yang menjadi perhatian investor yaitu bila PT Adhi Karya Tbk diminta untuk berinvestasi dana sendiri di proyek LRT. "Investor tidak suka dengan Adhi Karya karena proyek ini memerlukan dana besar dengan tingkat keuntungan relatif rendah sebesar 4 persen. Investor akan bali positif bila investasi Adhi Karya tidak diperlukan," ujar dia.

PT Adhi Karya Tbk menargetkan perolehan kontrak baru Rp 21 triliun pada 2017. Dengan pendapatan mencapai Rp 14 triliun dan laba bersih Rp 500 milair.

Selain LRT, Bima melihat ada peningkatan aset real estate sebesar 37 persen menjadi Rp 2,1 triliun dan penambahan tanah sebesar 14,8 kali menjadi Rp 744 miliar. "Kemungkinan Adhi Karya sedang bersiap mendapatkan keuntungan dari Transit-Oriented Development (TOD) dengan membangun properti yang berdekatan dengan LRT Jabodetabek," kata dia.

Dengan melihat kondisi itu, Bima merekomendasikan beli dengan target harga Rp 2.890 per saham untuk satu tahun.

Artikel Selanjutnya
Intip 2 Kinerja Emiten BUMN Tambang hingga Semester I
Artikel Selanjutnya
Anugerah BUMN Awards 2017 Tingkatkan Nilai BUMN Bagi Negeri