Sukses

Kembangkan Alat Diagnosis Kanker Payudara, RNI Gandeng LIPI

Liputan6.com, Jakarta - PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau RNI menjalin kerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Dalam kerja sama ini, RNI akan memanfaatkan hasil penelitian LIPI di sektor farmasi, alat kesehatan dan juga agro industri. Salah satu produk LIPI yang akan diadopsi oleh RNI adalah alat diagnosis kanker payudara. 

Direktur Utama RNI B Didik Prasetyo menjelaskan, kerja sama ini bertujuan untuk mendorong proses alih teknologi serta pengembangan skala bisnis RNI melalui pemanfaatan berbagai hasil riset dan inovasi. Kerja sama ini juga selaras dengan program Nawacita dalam menciptakan daya saing melalui pengembangan industri berbasis riset dan inovasi.

“Selama ini para peneliti, baik dari perguruan tinggi maupun lembaga riset pemerintah, diminta agar melakukan riset yang aplikatif. Untuk mendukung hal tersebut perlu kesiapan semua stakeholder, salahsatunya dari kalangan pelaku industri agar hasil riset bisa diproduksi dan dimanfaatkan masyarakat,” ungkapnya, Jumat (3/3/2017).

Kerjasama yang dijalin akan melingkupi berbagai bidang di antaranya farmasi, alat kesehatan (alkes), dan agro industri. Untuk pengembangan farmasi dan alkes, RNI melalui anak perusahaan yang bergerak dalam bidang farmasi dan alkes, PT Phapros Tbk akan berkolaborasi bersama LIPI mengembangkan berbagai produk obat dan alkes.

Salah satunya, Kit Diagnostic Kanker Payudara yang berfungsi sebagai deteksi dini kanker stadium awal. Phapros tengah melakukan penjajakan untuk mengadopsi dan memproduksi salah satu hasil penelitian LIPI yang telah masuk dalam tahap hilirisasi tersebut.

Sementara itu, RNI melalui anak usaha lain yang bergerak dalam bidang alkes, PT Mitra Rajawali Banjaran kini tengah mengembangkan dua produk alat kesehatan anyar yaitu safety box jarum suntik dan hydroxyapatite scaffold.

Untuk produk kotak pengaman atau safety box, bakal menjadi tempat pembuangan limbah jarum suntik. Saat ini, produk tersebut tengah uji laboratorium klinis di Denmark. Setelah proses terebut dilaksanakan, produk tersebut bakal diuji kembali di Kementrian Kesehatan.

Sedangkan hydroxyapatite scaffold merupakan bahan gipsum tulang dan gigi. Produk itu merupakan hasil kerja bareng antara PT Mitra Rajawali Banjaran dan PT Phapros.

"RNI tengah menggenjot pengembangan farmasi dan alkes, hal ini sebagai upaya mengurangi impor alat kesehatan melalui peningkatan produksi, kata dia. 

Didik melanjutkan, ada sekitar 46 persen jenis produk alat kesehatan yang bisa diproduksi di dalam negeri. "Kami konsisten mendukung program pemerintah dalam percepatan pengembangan industri farmasi dan alkes sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2016," Didik menutup.

 

Artikel Selanjutnya
4 Mahasiswa UI Temukan Cardium, Pengukur Risiko Sakit Jantung
Artikel Selanjutnya
Canggih, Teknologi Kulit Buatan Bisa Cegah Penyakit Diabetes