Sukses

Portal Peminjaman Dana Ini Tawarkan Imbal Hasil hingga 20 Persen

Liputan6.com, Jakarta - Portal pinjam meminjam dana atau peer to peer lending (P2P lending) Amartha memberikan penawaran investasi hingga 20 persen. Portal ini menghubungkan antara investor (lender) dan peminjam (borrower). Peminjam merupakan para pelaku usaha kecil yang tidak terjangkau bank (unbanked).

CEO and Founder Amartha, Andi Taufan Garuda Putra menerangkan, portal yang menghubungkan antara pemilik dana atau investor dan yang membutuhkan dana ini akan mendorong perkembangan usaha kecil.

Investor bisa berinvestasi dengan modal dari Rp 2 juta hingga Rp 10 juta. Imbal hasil pun bervariasi dari 10 sampai 20 persen. Di aplikasi, pemodal bisa menentukan pihak mana yang bakal mendapat pinjaman uang.

"Return yang kita berikan range 10 persen, 15 persen, 20 persen per tahun," ujar dia di Pasar Santa Jakarta, Selasa (7/2/2017).

Amartha sendiri meraup untung dari pinjam meminjam kedua belah pihak. Baik dari investor dan peminjam.

"Bunga yang diberikan peminjam segitu. Amartha narik dari fee dua sisi, lender dan borrower. Borrower untuk dapat pinjaman narik fee ada range 5-10 persen. Dari lender 1-3 persen juga," ungkap dia.

Untuk berpartisipasi dalam layanan ini, calon investor hanya tinggal mendaftar di Amartha melalui amartha.com. Kemudian, melakukan pengisian dana untuk memberikan modal pada peminjam.

"Masuk website kita, isi aplikasi daftar, isi kaya akun Facebook, mulai top akun Rp 3 juta untuk investasi ke peminjam yang ada di Amartha. Berapa imbal hasil yang kita kasih range lumayan lebar, tahun lalu 19,8 persen hampir 20 persen," kata dia.

Amatha sendiri berupa meminimalisir kerugian dari investasi tersebut. Pasalnya, profil peminjam akan ditampilkan di laman amartha.com. Kemudian, risiko gagal bayar pun diminimalisir dengan adanya jaminan kelompok.

"Borrower mereka bikin kelompok. Saat satu orang terlambat ada masalah itu tanggung renteng," pungkas dia. (Amd/Gdn)

Artikel Selanjutnya
BNI Raih Fasilitas Pinjaman US$ 500 Juta
Artikel Selanjutnya
OJK: Stabilitas Sektor Jasa Keuangan dalam Kondisi Normal