Sukses

Kenaikan Suku Bunga AS bakal Bayangi Gerak Harga Emas di 2017

Liputan6.com, Jakarta Harga emas terus terpuruk seiring langkah investor yang mengantisipasi keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) untuk menaikkan suku bunga acuannya dalam waktu dekat.

Harga emas sempat jatuh dari level support US$ 1.200 per ounce pada akhir pekan sebelum nyaris naik 0,1 persen.

Analis memprediksi fluktuasi harga akan berlangsung selama beberapa bulan ke depan. Perkiraannya, harga logam kuning ini akan berkisar antara US$ 1.100 dan US$ 1.300 per ounce.

Nevine Pollini dari UBP, seperti mengutip Gulfnews.com, Senin (13/3/2017) mengatakan ada beberapa faktor yang membebani kinerja emas, salah satunya rencana kenaikan suku bunga Federal Reserve AS.

Faktor lain kekhawatiran seputar Brexit dan ketakutan tentang hasil Pemilu di Perancis, Jerman dan Belanda.

"Kami percaya bahwa pembatasan masalah geopolitik yang serius akan membuat harga emas dalam rentang-terikat untuk beberapa bulan ke depan, berkisar antara US$ 1.100 dan US$ 1.300. Ekonomi AS yang menguat dan kebijakan pengetatan moneter the Fed akan tetap jadi pendorong utama harga emas pada 2017," jelas dia.

Pada Jumat pekan lalu, harga emas untuk pengiriman April melemah US$ 1,8 atau dua persen ke level US$ 1.201,40 per ounce. Level itu terendah 30 Januari.

Secara mingguan, harga emas telah melemah dua persen. Sedangkan harga perak merosot 11,3 sen atau 0,7 persen ke level US$ 16.923 per ounce. Secara mingguan, harga perak sudah merosot 4,6 persen.

“Bagaimana juga saat ini perhatian menuju ke rencana kenaikan suku bunga bank sentral AS pada Maret. Namun data ekonomi  tidak begitu kuat untuk meyakinkan pasar kalau bank sentral AS akan menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali pada 2017,” ujar Rob Haworth, Analis Senior US Bank Wealth Management.

Dengan rencana kenaikan suku bunga bank sentral AS sebanyak tiga kali tersebut dapat menekan harga emas.