Sukses

Stok Global Naik, Harga Minyak Anjlok

Liputan6.com, New York - Harga minyak terjatuh pada penutupan perdagangan Selasa (Rabu pagi waktu Jakarta). Pendorong penurunan harga minyak dunia karena organisasi negara-negara pengeskpor minyak (OPEC) melaporkan bahwa stok minyak mentah global naik cukup tajam.

Mengutip Reuters, Rabu (15/3/2017), harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) turun 68 sen atau 1,4 persen dan menetap di US$ 47,72 per barel. Harga minyak WTI telah turun selama tujuh hari berturut-turut. Jika dihitung sejak 3 Maret, harga minyak patokan di AS ini turun hampir 11 persen.

Sedangkan harga minyak Brent yang merupakan patokan dunia, untuk pertama kalinya bergerak di bawah rata-rata dalam 200 hari. Harga minyak Brent turun 43 sen atau 0,8 persen ke level US$ 50,92 per barel.

OPEC secara mengejutkan mengumumkan bahwa terjadi kenaikan stok minyak global dan lebih menarik lagi bahwa kenaikan produksi minyak terbanyak berasal dari anggota terbesar yaitu Arab Saudi. Pengumuman tersebut membuat kenaikan harga minyak yang telah terjadi selama hampir tiga bulan ini terhapus.

Meskipun OEPC merevisi prospek permintaan global ke level yang lebih tinggi, tetapi pengumuman mengenai kenaikan produksi tersebut membuat investor bingung sehingga memilih melakukan aksi jual.

Untuk meredam pebingungan pelaku pasar, Menteri Energi Arab Saudi mengeluarkan pernyataan bahwa data mengenai produksi memang berubah-ubah tergantung dengan operasional untuk menyesuaikan dengan kapasitas kilang.

"Harga minyak di bawah tekanan setelah keluarnya data OPEC yang terbaru mengenai kenaikan persediaan global meskipun OPEC memutuskan untuk mengurangi produksi," jelas analis energi senior Interfax Energy's Global Gas Analytics, London, Inggris, Abhishek Kumar.

Untuk diketahui, pada November akhir lalu negara-negara yang tergabung dalam OPEC dan beberapa negara lain non-OPEC sepakat untuk mengurangi produksi demi mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Dalam beberapa tahun terakhir harga minyak memang terus tertekan karena adanya kelebihan produksi jika dibandingkan dengan permintaan. kesepakatan tersebut dimulai awa Januari 2017 dan akan berlangsung selama enam bulan atau berakhir pada Juni nanti. (Gdn/Ndw)

Artikel Selanjutnya
Dampak Badai Harvey Dorong Harga Minyak Bervariasi
Artikel Selanjutnya
Spekulasi Permintaan Naik, Harga Minyak Melonjak