Sukses

Wijaya Karya Bagi Dividen Rp 33,8 per Saham

Liputan6.com, Jakarta - PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) memutuskan membagikan dividen untuk tahun buku 2016 sebesar Rp 303,5 miliar. Angka itu 30 persen dari laba yang dicapai pada 2016 sebesar Rp 1,012 triliun.

Pembagian dividen 2016 jadi sebesar Rp 33,8. Keputusan itu sudah melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Jumat (17/3/2017).

Direktur keuangan PT Wijaya Karya Tbk A.N.S Kosasih menuturkan, pihaknya membagikan dividen lebih maksimal ke pemegang saham seiring perolehan laba mencapai Rp 1 triliun pada 2016.

"Kita akan deliver deviden kemungkina besar pada akhir Maret atau awal April 2017, karena sesuai jadwal pebayaran deviden kepada negara paling lambat 30 kalender setelah RUPS," kata Kosasih di kantornya, Jumat (17/3/2017).

Kosasih juga menegaskan dividen yang dibayarkan ini merupakan dividen terbesar yang pernah dibagikan Wika terkait dengan pencapaian laba tertinggi sepanjang sejarah yang melonjak 161,88 persen dibandingkan pencapaian 2015.

Dalam RUPST tersebut juga diputuskan perubahan jajaran pengurus perusahaan. Untuk jajaran direksi diputuskan mengangkat Chandra Dwiputra sebagai Direktur Operai 1 dan Novel Arsyad sebagai Direktur Human Capital dan Pengembangan Sistem.

Sedangkan untuk jajaran komisaris diputuskan untuk mengangkat Imam Santoso sebagai Komisaris Utama menggantikan Mudjiadi.

Dengan begitu, berikut susunan pen‎gurus Wijaya Karya adalah:

Dewan Komisaris :
Komisaris Utama - Imam Santoso
Komisaris Independen - Imas Aan Ubudiyah
Komisaris Independen - Nurrachman
Komisaris - Eddy Krisrtanto
Komisaris - Liliek Mayasari
Komisaris - Freddy Saragih

Dewan Direksi
Direktur Utama - Bintang Perbowo
Direktur Keuangan - A.N.S Kosasih
Direktur Operasi I - Chandra Dwiputra
Direktur Operasi II - Bambang Pramujo
Direktur Operasi III - Destiawan Soewardjono
Direktur Human Capital dan Pengembangan Sistem Novel Arsyad

Artikel Selanjutnya
Naik 164 Persen, Otoritas Bursa Suspensi Saham Mitra Komunikasi
Artikel Selanjutnya
Debut Perdana, Saham Ayana Land Stagnan