Sukses

Kepastian Kenaikan Bunga The Fed Picu IHSG Perkasa

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu mencatatkan penguatan sekitar 2,78 persen selama sepekan untuk periode 10 Maret-17 Maret 2017. Penguatan IHSG didorong keputusan the Federal Reserve atau bank sentral Amerika Serikat (AS) menaikkan suku bunga 0,25 persen.

Mengutip laporan PT Ashmore Assets Management Indonesia, seperti ditulis Sabtu (18/3/2017), kenaikan IHSG dari level 5.390 pada 10 Maret 2017 menjadi 5.540 pada 17 Maret 2017. Keputusan bank sentral AS menaikkan suku bunga memberikan optimisme ke bursa saham global, termasuk bursa saham Indonesia. Aksi beli investor asing mencapai US$ 220 juta atau sekitar Rp 2,93 triliun (asumsi kurs Rp 13.343 per dolar Amerika Serikat).

Pasar obligasi naik 1,1 persen secara mingguan. Imbal hasil surat utang atau obligasi bertenor 10 tahun turun menjadi 7,2 persen. Pasar obligasi yang positif didorong aliran dana investor asing sekitar US$ 75 juta.

Ada pun sejumlah sentimen yang pengaruhi bursa saham antara lain dari global, the Federal Reserve menaikan suku bunga 25 basis poin menjadi 0,75 persen-1 persen. Pimpinan the Federal Reserve Janet Yellen melihat inflasi akan mencapai target. Selain itu, data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) juga membaik.

Bank sentral AS diperkirakan kembali menaikkan suku bunga dua kali lagi pada 2017. Jadi suku bunga bank sentral AS akan mencapai 1,25 persen-1,5 persen pada akhir 2017.

Dari pernyataan Yellen, ada sejumlah hal yang perlu dicermati antara lain suku bunga the Federal Reserve akan kembali naik sebanyak dua kali pada 2017. Selain itu, the Federal Reserve juga target inflasi dua persen bukan batasan. Ditambah kebijakan presiden AS Donald Trump soal pemangkasan tidak akan pengaruhi kebijakan suku bunga.

Hal ini akan membuat imbal hasil surat berharga AS merosot dalam jangka pendek. Di sisi lain bank sentral Eropa juga memberikan sinyal pemangkasan stimulus. Pimpinan bank sentral Eropa Mario Draghi memberikan sinyal itu seiring pemulihan zona euro menguat. Mulai bulan depan, pembelian obligasi atau surat utang akan turun menjadi 60 miliar euro dari sebelumnya 80 miliar euro.

Dari internal, saat ini musim dividen di pasar saham Indonesia. Sejumlah dividen dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) meningkat. Rata-rata dividen naik dari 20-30 persen menjadi 30-40 persen dari laba bersih 2016.

Selain itu, neraca perdagangan Indonesia tercatat surplus mencapai US$ 1,3 miliar pada Februari 2017. Surplus itu didorong pertumbuhan ekspor.

Dengan melihat kondisi sebelumnya, apa yang perlu dicermati ke depan?

Aliran dana investor asing masuk dalam jumlah besar ke pasar saham Indonesia sejak Kamis 16 Maret 2017. Hal itu didorong kepastian bank sentral AS atau the Federal Reserve menaikkan suku bunga. Meski suku bunga the Federal Reserve naik, imbal hasil obligasi dan pasar saham Indonesia masih menarik.

Strategi portofolio Ashmore pun mulai mengurangi kas. Hal itu seiring risiko global yang menurun. Pihaknya pun tetap hati-hati mengingat masih ada risiko yang terlihat. Salah satunya pemangkasan stimulus dan kenaikan suku bunga.

Dari internal, Ashmore belum melihat peningkatan solid dari pengeluaran konsumen. Ini dapat mempengaruhi data makro eknomi seperti pertumbuhan produk domestik bruto (PDB). Selain itu itu berdampak terhadap earning per share (eps) seiring potensi hasil kinerja kurang baik.

Artikel Selanjutnya
Saham Kapitalisasi Kecil Tekan IHSG
Artikel Selanjutnya
Saham Kapitalisasi Besar Dorong Penguatan IHSG Sepekan