Sukses

Pengembang AS Incar Investor Properti Asal Indonesia

Liputan6.com, Jakarta Helix Homes America LLC, perusahaan pengembang dan penyedia investasi properti asal AS, membidik pasar Indonesia dengan menawarkan investasi hunian di Amerika Serikat. Selain melakukan penetrasi ke pasar Indonesia, Helix juga mengedukasi bagaimana potensi investasi properti di AS.

“Diharapkan bisa menambah wawasan untuk investor di Indonesia dan menambah pengetahuan untuk melakukan transaksi di AS,” kata Chief Executive Officer Helix Homes America LLC, Joe Nelson seperti ditulis, Senin (20/3/2017).

Dia mengaku sangat optimis warga Indonesia banyak yang berminat berinvestasi properti di AS. Salah satunya karena regulasi di Indonesia cukup memberi peluang bagi warga negara Indonesia untuk melihat peluang investasi global. Karena itu, Helix menargetkan penjualan di Indonesia sedikitnya bisa mencapai 100 unit rumah per bulan.
 
Menurut Nelson, investor di Indonesia berwawasan modern dan menyadari peluang investasi internasional sangat terbuka. Regulasi pajak baru di Indonesia memungkinkan investor untuk mendeklarasikan aset-asetnya dan kemudian memperluas investasinya ke produk properti internasional termasuk di AS.

“Dan ini adalah peluang untuk membawa pendapatan sewa kembali ke Indonesia dari investasi di AS,” ungkap dia.
 
Helix sendiri menawarkan pilihan lokasi di tiga kota di tiga negara bagian, yakni Chicago di Illinois, Indianapolis di Indiana, dan Detroit di negara bagian Michigan.

Helix menjamin bahwa setiap hunian yang dijual sudah dianalisa profitnya, sudah direnovasi, dan sudah disewakan. Jaminan ini tentu menjadi peluang menarik untuk investasi properti.
 
Hans Herwin, Chief Marketing Officer Asia Pacific Region, Helix Homes America LLC, menjelaskan Helix memasarkan rumah dengan jaminan sewa kepada investor. Nilai sewa yang diterima investor bisa mencapai 9,25 persen dari nilai capital investment per tahun.
 
“Kami menawarkan investasi premium dengan lifetime ownership (kepemilikan seumur hidup) yang seluruhnya adalah landed house, dengan kisaran capital investment mulai dari US$ 60 ribu sampai US$ 80 ribu,” rinci dia.

Tiga kota yang ditawarkan Helix adalah kota yang memiliki pertumbuhan properti paling tinggi di AS. Ketiga kota yakni Chicago, Indianapolis dan Detroit mencatatkan property growth sebesar 10 persen per tahun, angka ini fantastis karena secara natural kenaikan properti di kota-kota lain hanya 3 persen sampai 4 persen saja.

Momentum Tepat

Pasca krisis ekonomi Amerika Serikat (AS) pada 2008, saat ini dianggap  momentum tepat untuk berinvestasi properti kembali di negeri Paman Sam. Apalagi perekonomian AS yang mulai pulih, ditambah lagi kebijakan ekonomi Presiden Donald Trump yang pro-kelas menengah diperkirakan bakal menggerakkan roda industri properti di negara tersebut.
 
No.1 Internasional PropertyGuru Dolf De Roos, menyebutkan ada dua hal yang menjadi alasan industri properti Amerika memiliki prospek yang postif di bawah pemerintahan Trump.

Pertama, Trump yang merupakan investor real estat sukses, sehingga tentunya dia tidak akan membuat kebijakan yang menghambat industri properti.

Kedua, Trump berkomitmen menjaga iklim bisnis AS dengan berbagai kebijakan. “Sulit untuk membayangkan dia melakukan perubahan kebijakan yang akan merugikan investasi real estat sebagai sebuah industri, karena dia juga seorang pebisnis sukses di properti. Selain itu, Trump menyatakan berulang kali bahwa dia akan menurunkan tarif pajak, menyederhanakan proses perpajakan, dan menawarkan insentif lain untuk kepentingan bisnis. Ini akan menguntungkan bisnis properti,” ujar Dolf De Roos.

Lebih lanjut dia menyebut, meski semula banyak ekonom dan organisasi yang memprediksi penurunan perekonomian pasca pelantikan Trump, namun prediksi tersebut ternyata tidak terbukti sampai saat ini. Ekonomi AS tetap berjalan secara stabil.
 
“Saya sering mendorong investor untuk terjun ke pasar ketika orang lain berpikir pasar dalam kondisi buruk. Secara umum, investasi hari ini jelas lebih baik dari investasi besok. Saya belum mendengar siapa pun yang membeli properti lebih dari lima tahun yang lalu mengeluh bahwa itu adalah keputusan yang salah. Mereka hanya cenderung menyesal karena tidak membeli lebih banyak,” papar Dolf.