Sukses

Generasi Milenial Lebih Berani Investasi

Liputan6.com, Jakarta - Pilihan investasi cukup beragam mulai dari produk di pasar modal dan uang. Di tengah pilihan investasi beragam itu, para investor terutama dari generasi milenial juga lebih agresif investasi di aset berisiko namun terukur.

Senior VP Wealth Management Head Consumer Banking Group Bank DBS Indonesia Widrawan Hindrawan menyampaikan hal itu saat berbincang dengan Liputan6.com, seperti ditulis, Selasa (21/3/2017).

Generasi milenial ini termasuk mereka yang lahir antara tahun 1981 ke atas. Diperkirakan golongan pekerja dari generasi ini lebih besar dari generasi sebelumnya.

Widrawan menuturkan, investasi yang ditawarkan kepada nasabah kaya termasuk dari generasi milenial kini sedikit berubah. Hal ini melihat dari risiko profil investasi tersebut. Kini, jenis investasi yang diberikan memiliki risiko rendah namun hasilnya diharapkan dapat di atas deposito.

Selain itu, dilihat dari generasi orangtua kepada anak. Widrawan melihat, para penerus atau anak lebih agresif berinvestasi di aset berisiko namun tetap terukur sesuai dengan investasi yang diberikan.

"Risk profil agak berubah dari konservatif menuju moderat. Ada dua hal yang dorong karena jenis investasi yang diberikan memiliki risiko rendah tapi di atas deposito. Kedua shifting generation dari orangtua ke anak. Kami lihat penerus lebih agresif," ujar Widrawan.

Oleh karena itu, ia melihat peluang alternatif investasi akan berkembang terutama dana investasi real estate (DIRE) dan kontrak pengelolaan dana (KPD) yang diberikan kepada investor. "Dua instrumen investasi ini akan memberikan peluang variasi kepada nasabah," ujar dia.

Widrawan menuturkan, generasi milenial yang identik dengan informasi teknologi ini juga turut mempengaruhi perkembangan sektor keuangan. Hal ini juga berdampak terhadap penawaran produk investasi yang diberikan kepada generasi milenial tersebut.

"Generasi milenial yang identik dengan teknologi cukup mudah untuk dapat akses keuangan dan informasi. Beberapa institusi keuangan dalam negeri dan luar negeri pun sudah memiliki akses lewat digital. Di situ kami lihat semua informasi yang diberikan untuk investasi sudah ada. Jadi nanti yang terpenting prosesnya seperti apakah lewat digital," jelas dia.

Terkait penempatan dana investasi, Widrawan menuturkan nasabah kaya di Indonesia juga sudah agresif untuk investasi di pasar saham dan surat utang. Ini dilihat dari pertumbuhan dana kelolaan reksa dana yang semakin kecil dengan dana pihak ketiga (DPK).

"Pertumbuhan dana kelolaan reksa dana dari tahun ke tahun pertumbuhannya 10-20 persen. Dana kelolaan reksa dana sekitar Rp 328 triliun. Lihat perbandingannya dengan DPK yang di Rp 4.700 triliun. Tetapi kalau kita lihat pertumbuhan dana kelolaan reksa dana dan DPK gap makin kecil meski nilai (dana kelolaan reksa dana) masih kecil dari DPK," jelas dia.

Widrawan menambahkan, ada sejumlah hal yang juga akan pengaruhi penempatan dana investasi pada 2017. Salah satunya kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve soal suku bunga. The Federal Reserve telah menaikkan suku bunga 0,25 persen pada pertemuan 14-15 Maret 2017.

Ingin tahu penempatan dana investasi oleh nasabah kaya di Indonesia? Bagaimana potensi perubahan produk investasi yang ditawarkan untuk generasi milenial? Berikut wawancara Senior VP Wealth Management Head Consumer Banking Group Bank DBS Indonesia Widrawan Hindrawan: