Sukses

Kunjungan Wapres AS Hasilkan Kerja Sama US$ 10 Miliar

Liputan6.com, Jakarta Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyatakan kunjungan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Mike Pence ke Indonesia membuahkan kesepakatan kerja sama senilai US$ 10 miliar. Dari jumlah tersebut, mayoritas merupakan kerja sama pada sektor energi dan pertambangan.

Ketua Umum Kadin Rosan P Roeslani mengungkapkan, secara total, ada 11 kesepakatan kerja sama yang ditandatangani dalam kunjungan Pence ini. Kesempatan tersebut antara lain, Applied Materials dengan PLN, Greenbelt Resources dengan Jababeka Infrastructure, Hilliburton dengan PLN, Honeywell dengan PT Dirgantara Indonesia (DI).

Kemudian, Lockheed Martin dengan TNI AU, NextGen dengan Samarinda, PowerPhase dengan PT Indonesia Power dan PT Pembangkit Jawa Bali, General Electric dengan PLN, Ormat Geothermal Indonesia dengan PLN, ExxonMobile dengan Pertamina serta Pacific Infra Capital dengan PLN.

"Tadi kita baru menandatangani ya. Tadi ada MoU dengan PLN, General Electric, kurang lebih US$ 2 miliar. Lalu yang lain sekitar US$ 6 miliar. Tapi ada US$ 10 miliar yang akan disepakati," ujar dia di Hotel Shangri La, Jakarta, Jumat (21/4/2017).

Sementara itu, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPm) Thomas Lembong mengatakan, dari nilai total kerja sama antara Indonesia dengan AS, paling besar dihasilkan dari kerja sama antara ExxonMobile dengan Pertamina yang mencapai US$ 6 miliar. Kerja sama dua perusahaan ini terkait dengan pembelian LNG oleh Pertamina dari ExxonMobile.

"Kalau nggak ‎salah tadi US$ 6 miliar. J‎adi ini contoh lagi memang dunia sekarang lagi kebanjiran gas, lagi murah, gas ini kan bahan baku untuk industri, industri kimia, untuk boiler di textile, dan industri-industri lain," kata dia.

Menurut Thomas, pembelian LNG oleh Pertamina ini menjadi contoh bagaimana Indonesia mengimpor bahan baku untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri dalam rangka menggenjot potensi ekspor produk jadi.

"Itu contoh suatu impor yang kan mendorong produksi kita karena ini bahan baku untuk produksi. Kita butuh impor untuk genjot ekspor karena ini impor dari bahan baku, beda dengan impor barang mewah itu konsumtif. Tapi impor-impor yang baik untuk produksi untuk efisiensi itu justru kita butuh," tandas dia.‎-

Artikel Selanjutnya
Menteri Susi: Ada yang Mau Hantam Saya soal Impor Garam
Artikel Selanjutnya
Kenali Pekerjaan yang Cocok melalui Zodiak Anda