Sukses

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi BI Tekan Rupiah

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tak mampu bergerak menguat tinggi pada perdagangan hari ini meskipun mata uang lain di regional mengalami penguatan yang cukup besar. Komentar BI soal pertumbuhan ekonomi memberikan sentimen negatif kepada rupiah.

Mengutip Bloomberg, Jumat (21/4/2017), rupiah dibuka di angka 13.322 per dolar AS, hanya menguat satu basis poin jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 13.323 per dolar AS.

Dari pagi hingga siang hari ini, rupiah berada di kisaran 13.311 per dolar AS hingga 13.325 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah mampu menguat 1,17 persen.

Sedangkan berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 13.320 per dolar AS, menguat tipis jika dibandingkan dengan patokan perdagangan sehari sebelumnya yang ada di angka 13.328 per dolar AS.

Ekonom PT Samuel Sekuritas Rangga Cipta menjelaskan, rupiah masih diliputi sentimen pelemahan di saat mayoritas kurs lain di Asia menguat hingga Kamis kemarin.

Respons terhadap hasil pilkada Jakarta cenderung negatif tetapi tidak berlebihan dan ke depan efeknya dipercaya akan memudar. BI RR rate yang tetap tidak terlalu diperhatikan oleh para investor.

Namun, pandangan Bank Indonesia yang kurang optimistis terhadap pertumbuhan ekonomi menjadi sentimen negatif. "Pelemahan rupiah akan bertahan dalam jangka pendek," jelas dia. 

Untuk diketahui, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I 2017 masih tetap baik. Namun, pertumbuhan ini bakal di bawah proyeksi BI.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Tirta Segara menuturkan, pertumbuhan ekonomi tersebut dipengaruhi oleh konsumsi rumah tangga pada kuartal I 2017 yang melambat.

"Berpotensi sedikit melambat tercermin dari pertumbuhan penjualan eceran dan motor yang menurun, dipengaruhi oleh proses konsolidasi korporasi yang masih berlanjut," kata dia di Gedung BI, Jakarta, Kamis (20/4/2017).

Meski begitu, dia menuturkan pertumbuhan ekonomi nasional akan ditopang perbaikan dari sisi investasi dan kinerja ekspor. Investasi yang membaik didukung oleh investasi bangunan dan non bangunan.

"Perbaikan investasi nonbangunan didukung oleh kenaikan harga komoditas seperti terlihat pada penjualan alat berat untuk pertambangan dan perkebunan yang meningkat," jelas dia.

Dia melanjutkan, kenaikan harga komoditas akan berkontribusi pada kinerja ekspor yang bakal tumbuh positif.

Asisten Gubernur dan Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Dody Budi Waluyo mengatakan, pertumbuhan ekonomi kuartal I 2017 tak jauh beda dengan kuartal IV 2016.

"Pertumbuhan ekonomi triwulan 4 sekitar 5 persen. Kita perkirakan untuk triwulan 1 tahun 2017 masih sekitar situ. Tapi sebenarnya agak di bawah perkiraan kita di awal tahun," jelas dia. (Gdn/Ndw)

Artikel Selanjutnya
Top 3: Utang Pemerintah Tembus Rp 3.672 Triliun sampai 31 Mei
Artikel Selanjutnya
Pengusaha Puji Pemerintah soal Atur Harga Pangan Saat Lebaran