Sukses

Menkeu: Produktivitas Dorong Pertumbuhan Ekonomi Jangka Panjang

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memberikan paparan terkait keadaan ekonomi Indonesia di hadapan para undangan The United States-Indonesia Society (USINDO) pada hari pertama rangkaian acara IMF-World Bank Spring Meeting 2017 di Washington DC, Amerika Serikat (AS).

Seperti dikutip dari laman resmi Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (21/4/2017), salah satu poin paparannya yang bertema 'Indonesia: Steering Through The Global Headwind, Unlocking The Domestic Potentials', Sri Mulyani menyebut beberapa hal yang dilakukan Indonesia dalam menjaga perekonomiannya tetap tahan banting di tengah ketidakpastian global. Kebijakan itu terkait reformasi fiskal dan menggalakkan investasi.

"Kami melakukan efisiensi anggaran dan merevisi target penerimaan pajak yang ambisius namun realistis di 2016 dan 2017," kata Sri Mulyani.

"Kami memotong belanja yang kurang produktif namun di saat yang bersamaan harus menggenjot program prioritas yang produktif termasuk infrastruktur dan jaminan sosial," tambah dia.

Sri Mulyani mengaku akan terus menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk mendukung kualitas pertumbuhan tanpa mengesampingkan kehati-hatian fiskal.

"Strategi saya adalah mengoptimalkan penerimaan dan meningkatkan kualitas belanja dengan tetap memperhatikan keberlangsungan fiskal," ujar dia.

1 dari 2 halaman

Produktivitas Pendorong Ekonomi

Produktivitas pendorong ekonomi

Sri Mulyani menyatakan produktivitas adalah pendorong utama pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Masa depan Indonesia akan semakin bergantung pada perbaikan produktivitas multifaktor.

Hal ini disampaikannya dalam sambutan kegiatan East Asia Pacific Department (EAP) Seminar on Unleashing Productivity: The Key to Sustainable Inclusive Growth di gedung J, kantor pusat Bank Dunia, Washington, D.C, AS.

"Produktivitas di sektor manufaktur telah mendukung pertumbuhan TFP (Total Factor Productivity) di Indonesia namun secara keseluruhan pertumbuhannya masih rendah," ujar Sri Mulyani.

Lebih lanjut Sri Mulyani mengatakan, sektor manufaktur sebagai kontributor tertinggi terhadap pertumbuhan PDB di Indonesia, sementara layanan adalah komponen terbesar dalam pertumbuhan ekonomi.

Indonesia, Ia menuturkan memiliki bonus demografi, dengan sekitar 60 persen penduduk Indonesia berusia di bawah 39 tahun yang memiliki potensi kreativitas dan inovasi yang sejalan dengan perkembangan teknologi.

"Jadi dalam lingkungan yang berubah di mana persaingan global semakin ketat, Indonesia pada dasarnya memiliki banyak potensi dalam mengembangkan kewirausahaan, terutama bagi pengusaha muda dan perempuan," Sri Mulyani menerangkan.

Dia mengaku, pemerintah Indonesia telah menetapkan beberapa kebijakan strategis untuk menghidupkan kembali sektor manufaktur di Indonesia, antara lain:

(1) memfasilitasi pertumbuhan industri pendukung,

(2) memperbaiki infrastruktur: jalan, pelabuhan dan energi,

(3) meningkatkan iklim investasi,

(4) mengoptimalkan industri nasional untuk bergabung dengan global value chain,

(5) deregulasi yang berkelanjutan dalam bidang logistik dan distribusi,

(6) menjamin ketersediaan faktor produksi dengan harga yang kompetitif, khususnya energi,

(7) meningkatkan produktivitas subsektor manufaktur dengan lapangan kerja yang tinggi melalui penyediaan tenaga kerja yang sangat terampil, dan

(8) meningkatkan pendidikan melalui pendidikan konvensional dan kejuruan sekolah.

Artikel Selanjutnya
Pertumbuhan Ekonomi RI Bakal 5,1 Persen hingga Akhir 2017
Artikel Selanjutnya
Menko Darmin: 72 Tahun Merdeka, Ekonomi RI dalam Kondisi Baik