Sukses

BI: Dolar AS Loyo Imbas Investor Ragu Trump Penuhi Janji Kampanye

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) menyatakan, tren dunia saat ini mengarah pada pelemahan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap hampir seluruh mata uang internasional, terutama Euro akibat keraguan para pelaku di pasar uang terhadap realisasi janji-janji Presiden AS, Donald Trump pada saat kampanye. Pelemahan dolar ini mendorong stabilitas nilai tukar rupiah.

"Tren global sekarang ini, kurs dolar melemah terhadap mata uang internasional. Kurs dolar AS melemah, Euro menguat," ujar Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityaswara di Jakarta, Kamis (27/7/2017).

Faktor penyebab dolar AS babak belur, ia mengakui, karena ada keraguan pelaku di pasar uang internasional terhadap janji-janji ekonomi Donald Trump yang akan sulit direalisasikan. Dikutip dari Reuters, Rabu 26 Juli 2017, secara year to date (ytd), dolar AS masih melemah terhadap rupiah sebesar 1,05 persen. Bahkan dengan mata uang lain, terutama Euro.

"Sejak ada keraguan dari pasar uang internasional terhadap janji-janji ekonomi Trump sulit direalisasikan, maka yang terjadi revisi outlook ke bawah atas pertumbuhan ekonomi AS dari ekonom-ekonom internasional," Mirza menerangkan.

Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) contohnya, memproyeksikan ekonomi AS akan bertumbuh 2,4 persen di 2018. Perkiraan ini turun dibanding sebelumnya sebesar 2,8 persen. Begitupun dengan tahun ini, OECD meramalkan Produk Domestik Bruto (PDB) AS akan turun dari 2,4 persen menjadi 2,1 persen.

"Ekonom-ekonom internasional merevisi ke bawah pertumbuhan ekonomi AS di 2018. Itu karena mereka tidak yakin Trump mampu merealisasikan janji-janji kampanyenya," papar Mirza.

Asal tahu, beberapa di antara janji-janji kampanye Trump di bidang ekonomi, meliputi reformasi pajak dan pembangunan infrastruktur. Akibat perkiraan tersebut, dolar AS melemah, sementara Euro terus menguat.

"Konfiden Euro recover dan hasil poling di Jerman, sepertinya Angela Merkel (Kanselir Jerman) akan menang lagi sehingga kepercayaan Euro menguat, dan dolar AS tenggelam," ujar dia.

Pelemahan dolar AS, lanjut Mirza, membuat nilai tukar rupiah stabil. Dari data kurs tengah BI (Jisdor), nilai mata uang Garuda tertekan menjadi Rp 13.334 per dolar AS, berdasar data perdagangan kemarin.

"Kurs dolar melemah, kondisi ini bagus buat Indonesia karena kurs rupiah stabil. Rupiah kita tidak overvalue, tapi masih sedikit di undervalue dan itu malah baik buat ekspor kita dan menghambat impor. Yang penting masih sesuai fundamentalnya, BI akan monitor terus," jelasnya.

Menurut Mirza, Indonesia harus mampu meningkatkan kinerja ekspor dan mengendalikan laju impor supaya bisa mencetak surplus neraca transaksi berjalan (current account), yakni Malaysia dan Thailand. Namun bukan berarti BI sengaja melemahkan mata uang rupiah demi memacu ekspor.

"Current account kita masih defisit walau masih sehat. Tapi dibanding negara tetangga Malaysia dan Thailand, mereka sudah surplus. Untuk bisa surplus, kita harus tingkatkan ekspor dan kendalikan impor, sehingga kurs rupiah akan lebih baik kalau undervalue. Tapi itu mekanisme pasar ya," ujar Mirza.

 

Saksikan Video Menarik di Bawah Ini:

 

Artikel Selanjutnya
Tak Ada Sinyal Kenaikan Suku Bunga, Rupiah Bergerak Menguat
Artikel Selanjutnya
Saham Unggulan Bawa IHSG Cetak Rekor