Sukses

Boros mana, Suami atau Istri? Ini Jawabannya

Liputan6.com, Jakarta - Pernah tidak Anda merasa bahwa pasangan Anda boros luar biasa. Sebaliknya, pasangan Anda tidak merasa kalau dia boros, tapi justru merasa bahwa Andalah yang boros?

Katakan saja ada suami-istri. Si suami penghasilannya sekitar Rp 35 juta per bulan, dan istri adalah ibu rumah tangga yang mengurus tiga anak yang masih SD.

Dari jumlah tersebut, suami memberikan Rp 25 juta per bulan untuk pengeluaran rumah dan pribadi, sementara si Suami hidup hanya dari uang sebesar Rp 10 juta per bulan, untuk keperluan transpor dan rokok. Makan siang pun rutin bawa dari rumah.

Nah, selama ini pengeluaran rumah tangga selalu tercukupi.Tapi kadang si suami suka tidak sreg melihat istri yang menurutnya boros, terutama urusan beli baju. Hampir setiap bulan mungkin sekitar lima baju baru yang dibeli untuk dirinya sendiri.

Memang sih, selama ini pengeluaran rumah tangga tetap bisa terbayar, tapi tetap saja si suami sering tidak sreg. Kalau dibilang, si istri seringkali sewot dan bilang kalau suamilah yang sebenarnya boros, cuma saja si suami tidak sadar kalau dia boros.

Si suami memang merasa tidak boros, cuma memang sering ajak keluarga ke mal untuk makan di restoran yang harganya lumayan. Dan kalau kalau pergi ke mal bawa keluarga dan makan enak di restoran, uang diambil dari yang Rp 25 juta itu.

Jadi sebenarnya dua-duanya boros, tapi masing-masing tidak merasa boros, malah pasangannya yang mereka tuding boros.

Sering mengalami itu dengan pasangan Anda? Kalau sering, kenapa itu bisa terjadi?

Jawabannya: karena ada perbedaan values.

Oke, jadi begini. Anda pernah dengar istilah values? Values itu berarti nilai-nilai. Nilai-nilai ini bisa diartikan sebagai 'prioritas dalam hidup', yaitu apa yang menjadi prioritas seseorang dalam hidupnya. Tiap orang punya nilai-nilai yang berbeda dalam hidupnya.

Sebagai contoh, ada orang yang nilai-nilainya adalah keluarga. Ini berarti, dia sangat mementingkan keluarga dalam hidupnya. Ada juga yang nilai-nilainya adalah Karier, dimana ini berarti orang tersebut sangat mementingkan karier. Ada juga yang nilai-nilainya adalah kesehatan, dimana ini berarti orang tersebut sangat mementingkan Kesehatan.

Satu orang bisa memiliki banyak nilai, dimana masing-masing nilai tersebut memiliki urutan sendiri dalam hidupnya. Misalnya nih, ada orang yang urutan nilai-nilainya adalah sebagai berikut:

(1) Keluarga, (2) Hobi, (3) Karier. Orang lain mungkin ada yang nilai-nilainya adalah (1) Kesehatan, (2) Karier, (3) Tuhan. Ada juga yang nilai-nilainya (1) Tuhan, (2) Keluarga, (3) Karier.

Nah, dari nilai-nilai tersebut, biasanya orang akan menggunakan semua sumber daya yang dia punya - termasuk uang - untuk memenuhi nilai-nilai itu.

Misalnya, orang yang mementingkan keluarga sebagai nilai-nilainya, maka mungkin dia bisa hemat dalam pengeluaran lain, tapi tidak keberatan mengeluarkan banyak uang untuk kepentingan Keluarganya seperti rekreasi atau piknik mengajak keluarganya.

Orang yang menjadikan penampilan sebagai nilai yang dianutnya, maka besar kemungkinan dia tidak akan pelit mengeluarkan uang pada segala hal yang berhubungan dengan penampilan. Orang yang menjadikan hobi sebagai nilai-nilainya, maka tidak akan keberatan keluar uang banyak untuk hobinya.

Begitu juga dengan suami istri pada contoh di atas tadi. Bagi si istri, mungkin penampilan menjadi nilai-nilai yang sangat penting baginya. Sementara bagi suami, nilai-nilai yang dianutnya berbeda. Makanan atau kepuasan dari makanan sangat penting bagi suami, sehingga si suami rela keluar uang banyak untuk itu, dan malah jadi sangat hemat di pengeluaran lain.

Jadi kesimpulannya, nilai-nilai yang dianut seseorang akan menentukan pos pengeluaran apa yang akan jadi boros buat dia dan pos pengeluaran apa yang akan dia hemat.

Cuma jangan lupa, perbedaan nilai ini tidak semua bisa diterima oleh orang lain, termasuk oleh orang terdekat. Dalam contoh di atas dimana penampilan adalah nilai utama bagi istri, bisa saja si suami tidak melihat penampilan menarik sebagai hal yang harus dianggap penting.

Itulah kenapa si suami selalu heran, bahkan keberatan, kalau istri sering belanja baju. Sebaliknya, mungkin saja si istri tidak terlalu menganggap penting tentang makanan enak sehingga dia sebenarnya keberatan kalau suaminya boros soal makan di restoran.

Jadi kesimpulannya, perbedaan nilai akan menyebabkan perbedaan pos boros bagi tiap orang. Kalau Anda dan pasangan memiliki nilai-nilai yang berbeda, komunikasikan perbedaan nilai tersebut sehingga masing-masing bisa lebih saling menghargai nilai yang dianut oleh yang lainnya.

Beda nilai, beda pula borosnya.

 

Safir Senduk & Rekan

Telepon: (021) 2783-0610
HP: 0818-770-500 (Dala Rizfie-Manajer)
Twitter/Instagram: @SafirSenduk

Artikel Selanjutnya
Ditinggal Nikah Mantan, Haruskah Langsung Cari Pengganti?
Artikel Selanjutnya
Diajak Nikah? Tanyakan 5 Hal ini Dulu!