Sukses

Venezuela, Negara Kaya Minyak di Ambang Kebangkrutan

Liputan6.com, Jakarta Negara kaya minyak, Venezuela saat ini tengah menghadapi krisis. Negara di Amerika Latin tersebut mengalami banyak persoalan ekonomi.

Negara tak dapat memenuhi kebutuhan makanan untuk 30 juta penduduknya. Venezuela kini menghadapi gejolak politik dan sosial, dan jaraknya sangat dekat dengan keruntuhan ekonomi. Sejumlah peringatan darurat dari pemerintah pun sudah berulang kali dinyatakan.

Pertanyaanya, bagaimana hal ini bisa terjadi pada negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia?

Jawabannya adalah karena harga minyak.

Dilansir dari Bloomberg video, Minggu (6/8/2017), Venezuela menggantungkan ekonominya pada minyak. Sehingga jatuhnya harga minyak menyebabkan kerusuhan di masyarakat dan pengusiran Presiden Nicholas Maduro.

Namun sebenarnya. krisis di Venezuela sudah terjadi sejak zaman sebelum Maduro, yaitu Hugo Chavez. Chavez terkenal dengan ideologi sayap kiri yang disebut Chavismo dan retorika Anti Amerika Serikat yang berapi-api.

Saat menjabat, Chavez memfokuskan semua sumber daya di dalam negeri pada satu hal: memproduksi minyak. Artinya, semua hal yang dikonsumsi di dalam negeri selain minyak harus diimpor. Dan Chavez berutang banyak uang untuk membiayai itu.

Saat harga minyak tinggi, sistem tersebut berhasil. Tapi di 2013, krisis mulai di depan mata, Chavez wafat. Maduro pun mengambilalih. Dan krisis semakin mendekat saat di 2014 harga minyak mulai terjun bebas.

Pendapatan ekspor Venezuela paling banyak disumbang dari minyak, yaitu 95 persen. Saat harga turun, Venezuela pun kekurangan pemasukan. Kemudian pemerintah merespon dengan memangkas impor untuk kebutuhan pokok seperti sayuran dan kebutuhan medis untuk menghindari bangkrut karena utang luar negeri mereka.

Negara juga mulai mencetak uang banyak sehingga menyebabkan inflasi yang terjerembab menuju 3 digit. Ekonomi yang terjun bebas ini telah memperburuk masalah sosial di Venezuela. Rakyat pun rusuh, melakukan penjarahan, kerusuhan, unjuk rasa dan lainnya.

Koalisi yang menentang Maduro dan memenangkan suara mayoritas 2015 mencoba menggulingkan sang presiden pun gagal.

Pada 30 Juli 2017, dilakukan Pemilihan Presiden. Semua oposisi diboikot jadi pilihan utamanya hanya memilih sekutu Maduro. Setelah pemilihan, Amerika Serikat memberikan sanksi pada aset Maduro. Semua aset Maduro pada yurisdiksi AS, dibekukan.

Amerika Serikat adalah konsumen terbesar minyak dari Venezuela, jadi sanksi yang semakin besar sudah jelas akan menghancurkan Venezuela.

Artikel Selanjutnya
Diterjang Krisis, Inflasi di Venezuela Capai 700 Persen
Artikel Selanjutnya
5 Alasan Krisis Politik Venezuela Ancam Stabilitas Dunia