Sukses

Produksi Ladang di Libya Bertambah Dorong Harga Minyak Naik

Liputan6.com, New York Harga minyak mentah dunia turun sebanyak 2 persen dipicu rebound pada produksi dari lapangan minyak terbesar Libya, seiring kekhawatiran peningkatan output minyak dari OPEC dan Amerika Serikat.

Melansir laman Reuters, Selasa (8/8/2017), patokan minyak mentah berjangka global turun 26 sen atau 0,5 persen menjadi US$ 52,16 per barel. Ini usai diperdagangkan ke posisi rendahnya di US$ 51,37 per barel.

Sementara harga minyak mentah AS turun 34 sen, atau 0,7 persen menjadi US$ 49,24 per barel, setelah di posisi terendahnya US$ 48,54 per barel. Kedua kontrak berada di bawah pencapaian pekan lalu.

Output minyak pada ladang Sharara Libya kembali ke normal setelah terjadi gangguan singkat oleh demonstran bersenjata di kota pesisir Zawiya, menurut laporan Oil Corporation Nasional (NOC). Produksi lapangan ini meningkatkan minyak Libya, dengan naik lebih dari 1 juta barel per hari pada akhir Juni.

Di sisi lain, muncul keraguan tentang efektivitas penurunan produksi oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan produsen besar lainnya termasuk Rusia. Adapun produksi minyak OPEC tertinggi pada 2017 terjadi pada bulan Juli dan mencapai rekor ekspor.

"Peningkatan dalam produksi OPEC sebagian besar merupakan pulihnya volume dari Libya dan Nigeria," menurut Tim Evans, Ahli energi berjangka Citi Futures dalam sebuah catatan.

Pejabat dari OPEC bertemu di Abu Dhabi pada hari Senin dan Selasa untuk membahas cara-cara untuk meningkatkan kepatuhan guna mencapai kesepakatan untuk memotong 1,8 juta barel per hari produksi.

Produksi minyak di Amerika Serikat tercatat naik meskipun data Baker Hughes pada Jumat menunjukkan terdapat pengurangan rig pengeboran pada pekan lalu.


Tonton video menarik berikut ini:

Artikel Selanjutnya
Harga Minyak Melonjak 3 Persen karena Aktivitas Pengeboran Turun
Artikel Selanjutnya
Persediaan Minyak AS Turun, Harga Minyak Naik