Sukses

Intip Kinerja Vale Indonesia pada Semester I 2017

Liputan6.com, Jakarta - PT Vale Indonesia Tbk (INCO) merilis kinerja semester I 2017. Tercatat, perseroan mencatatkan kenaikan pendapatan 18,25 persen menjadi US$ 291,88 juta.

Pada periode semester I 2016, pendapatan perseroan tercatat US$ 246,83 juta. Perseroan membukukan rugi periode berjalan naik 7,16 persen menjadi US$ 21,47 juta. Beban pokok pendapatan naik 19,12 persen menjadi US$ 309,88 juta.

Jadi, perseroan membukukan kenaikan rugi bruto menjadi US$ 17,99 juta pada semester I 2017. Perseroan membukukan kenaikan pendapatan lainnya menjadi US$ 1,15 juta dari periode semester I 2016 sebesar US$ 961 ribu.

Di sisi lain, perseroan mampu menuturkan liabilitas dari US$ 390,90 juta pada Desember 2016 menjadi US$ 356,49 juta pada 30 Juni 2017. Ekuitas perseroan turun tipis menjadi US$ 1,81 miliar pada 30 Juni 2017. Perseroan kantongi kas naik menjadi US$ 260,7 juta pada 30 Juni 2017.

"Pendapatan nikel matte sekitar 3 persen lebih tinggi pada kuartal II 2017 dibandingkan kuartal I 2017, meskipun harga realisasi rata-rata lebih rendah pada kuartal II 2017. Lebih dari sebelumnya, kami sadari pentingnya tetap fokus pada peningkatan efisiensi dan pengurangan biaya," kata Nico Kanter, CEO dan Presiden Direktur PT Vale Indonesia Tbk, seperti ditulis Selasa (8/8/2017).

Beban pokok pendapatan per metrik ton penjualan nikel matte pada kuartal II 2017 yaitu dua persen lebih rendah dibandingkan pada kuartal I 2017, tanpa menyertakan provinsi penurunan nilai persediaan yang meningkat sebesar US$ 8,1 juta dibandingkan kuartal I 2017.

Penurunan beban pokok pendapatan per metrik ton penjualan nikel matte terutama didorong oleh turunnya biaya bahan pembantu dan biaya karyawan masing-masing sebesar 11 persen dan 17 persen, sementara produksi meningkat.

Biaya bahan bakar dan pelumas meningkat pada kuartal II secara per unit basis dan jumlah total. Hal ini disebabkan kenaikan harga bahan bakar. Namun, ini diimbangi tingkat konsumsi diesel lebih baik.

Perseroan mengeluarkan US$ 11,9 juta untuk belanja modal pada kuartal II 2017. Angka ini turun dari sebelumnya US$ 18,8 juta pada kuartal I 2017.

Selain itu, perseroan akan memproduksi sekitar 80.000 ton nikel dalam matte. Secara bersamaan, perseroan akan tetap fokus pada berbagai inisiatif penghematan biaya untuk pertahankan daya saing.

 

Saksikan Video Menarik di Bawah Ini:

 

Artikel Selanjutnya
Jokowi Banggakan Pujian Lembaga Internasional untuk RI
Artikel Selanjutnya
Indonesia Rajai Pasar Otomotif ASEAN