Sukses

Rupiah Tertekan, Konflik Korea Utara Jadi Penyebabnya

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah pada perdagangan Kamis pekan ini. Rupiah berpeluang menguat seiring kenaikan saham dan obligasi pemerintah. 

Mengutip Bloomberg, Kamis (10/8/2017), rupiah dibuka di angka 13.344 per dolar AS, melemah jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 13.333 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 13.335 per dolar AS hingga 13.354 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah masih menguat 0,97 persen.

Sedangkan berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 13.338 per dolar AS, melemah jika dibandingkan dengan patokan sehari sebelumnya yang ada di angka 13.324 per dolar AS.

Won Korea Selatan melemah pada perdagangan hari ini. Selain itu, euro juga tertekan. Hal tersebut menjadi pendorong bagi penguatan dolar AS sehingga menekan rupiah.

"Situasi di korea Utara masih belum stabil. Investor lebih memilih untuk mengendalikan risiko dan mengambil keuntungan saat ini," "jelas analis senior South China Financial Holdings Ltd Sam Chi Yung.

Usai aksi ambil untung maka investor menyimpan dana dalam dolar AS sehingga permintaan pun meningkat dan mendorong penguatan mana uang Paman Sam tersebut.

Ekonom PT Samuel Sekuritas Rangga Cipta menjelaskan, rupiah memang melemah sejak perdagangan Rabu kemarin dengan dolar AS yang menguat di pasar Asia.

"Sentimen positif dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta Surat Utang Negara (SUN) diharapkan bisa mendorong penguatan rupiah lanjutan," tutur dia.

Tonton Video Menarik Berikut Ini:


Artikel Selanjutnya
Konflik Korut dan AS Belum Ganggu Ekonomi RI
Artikel Selanjutnya
Rupiah Terbantu Konflik Semenanjung Korea