Sukses

37 Ribu Ton Garam Asal Australia Mulai Banjiri Pasar

Liputan6.com, Cilegon Sebanyak 37 ribu ton garam impor asal Australia telah memasuki Indonesia melalui Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II yang berada di Kecamatan Ciwandan, Kota Cilegon, Banten pada Kamis (10/8/2017).

"Yang tiba milik PT Garam Indonesia, itu dibongkar 25 ribu ton. Seminggu sebelumnya bongkar PT Sumatera Call, itu 12 ribu ton," kata Adi Sugiri, Deputi General Manager Operasional PT Pelindo II, seperti dikutip Minggu (13/8/2017).

Adapun proses bongkar muat garam milik PT Garam Indonesia sebanyak 25 ribu ton tersebut selesai dalam dua hari. "Dibongkarnya maskimal tiga hati, tapi biasanya dua hari udah selesai. Kan garam komoditas mayoritasnya dari Australia," terang dia.

Garam](3053158 "") sebanyak 25 ribu ton itu kemudian akan dibawa ke gudang penyimpanan yang berada di Cikande, Kabupaten Serang, Banten.

"Sekarang dibawa ke daerah Cikande gudangnya, PT Susanti Megah. Kita kan dukung kelancaran distribusi garam pemerintah," jelas dia.

Ke depan, kata dia, garam impor akan kembali membanjiri pasar Indonesia. Meski begitu, Adi belum memastikan kapan garam tersebut akan berlabuh di pelabuhan milik Pelindo II.

"Informasi awal ada masuk kapal-kapal berikutnya, tapi kita belum ada update. Karena kita kan ada tiga pelabuhan. Ada di Indah Kiat atau di KBS (Krakatau Bandar Samudera). Ini enggak hanya konsumsi Banten, mungkin untuk keseluruhan. Karena untuk pelabuhan bongkar curah ada di Banten," jelasnya.

Sebelumnya, untuk menyelesaikan permasalahan garam di Indonesia, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan, berencana ekstensifikasi dengan menambah luas lahan garam. Ada tiga area yang menjadi incaran pemerintah dalam program tersebut.

“Kita minta supaya dibuat segera studi kelayakan untuk persoalan garam. Jadi kita enggak mau tergantung lagi (impor). Kita ini kan semua kurang sinergi," tegas Luhut dalam keterangan resminya di Jakarta, Kamis (10/8/2017).

Menurut Luhut, ekstensifikasi lahan garam akan diprioritaskan di tiga wilayah, yakni Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi, dan Jawa Timur. Ia melanjutkan, Kupang memiliki lahan seluas 7.000 hektare (ha) yang berpotensi sebagai lahan produksi garam. Begitupun di Sulawesi seluas 2.000 ha dan di Madura.

"Jadi tiga area utama ini akan kita sinergikan demi bisa memenuhi kebutuhan garam, terutama garam konsumsi sebanyak 1,3 juta ton dan garam industri sekitar lebih dari 2 juta ton,” Luhut menerangkan.

Saat ini, diakui Luhut, proses studi sedang berlangsung dan ditargetkan selesai bulan depan dengan mengandalkan periset dalam negeri. Ia menambahkan, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sudah memiliki teknologi pengolahan garam yang tidak tergantung cuaca.

Tonton video menarik berikut ini:

Artikel Selanjutnya
Harga Cabai dan Bawang Merosot di Awal September
Artikel Selanjutnya
Harga Bahan Pangan Stabil, Cek Rinciannya