Sukses

RNI Proyeksi Laba Bersih 2017 Terpangkas Rp 100 Miliar

Liputan6.com, Tarakan - PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) memproyeksi capaian laba bersih tahun ini turun hampir Rp 100 miliar dari 2016. Pada 2016, laba bersih RNI mencapai Rp 247 miliar, sementara pada tahun ini diprediksi perolehan laba bersih perusahaan pelat merah itu hanya Rp 148 miliar.

“Capaian laba tahun ini diprediksi Rp 263 miliar sebelum pajak. Setelah pajak Rp 148 miliar. Kalau tahun lalu, laba kita Rp 247 miliar,” kata Direktur Utama PT RNI B Didik Prasetyo ditemui di Tarakan, Kalimantan Utara, Sabtu (12/8/2017).

Faktor pertama disebabkan harga gula yang turun signifikan. Pada tahun lalu, harga gula masih berkisar Rp 11.500 per kilogram. Sementara, harga gula sekarang berada di angka Rp 9.600 atau anjlok dari harga jual gula di awal tahun yang menyentuh Rp 9.900 per kilogram.

Menurut Didik, penurunan harga signifikan itu akibat suplai gula yang tersedia tidak sebanding dengan serapan di lapangan. Hal itu terbukti dengan menumpuknya stok gula di gudang RNI yang mencapai 30 ribu ton. Jumlah tersebut diperkirakan terus meningkat mengingat puncak produksi gula terjadi sepanjang Agustus hingga September.

“Sejak Juni, Juli, Agustus, produksi gula naik. Peak-nya Agustus-September. Oktober sudah masuk masa akhir giling,” kata Didik.

Demi menyiasati situasi tersebut, RNI sementara ini melempar gula produk RNI ke ritel dengan memanfaatkan jejaring PT Rajawali Nusindo, selaku anak usaha di bidang trading dan distribusi.

Raja Gula sebagai produk RNI pun dikemas per 1 kilogram karena menyesuaikan dengan target konsumen. “Yang ritel itu, Rp 12.500 kita jual,” kata Didik.

Selain itu, pihaknya bakal mengefisienkan produksi. Biaya produksi gula ideal Rp 6.700 per kilogram, sementara hasil survei di tingkat petani saat ini masih di angka Rp 9.100 per kilogram. Pihaknya akan menjalankan sejumlah langkah efisiensi, salah satunya dengan menutup pabrik gula Sindang Laut di Cirebon.

Sementara, faktor kedua penyumbang turunnya laba adalah mengikuti tax amnesty. Ia mengungkapkan karena kewajiban itu, sejumlah laba ikut tergerus.

“Rajawali 1 saja bayar Rp 122 miliar. Jadi, gerus laba karena kita wajib bayar. Tapi, mending ikut tax amnesty. Dengan begitu, denda pajak tahun 2007-2008 itu diputihkan,” dia menjelaskan.

Faktor ketiga penyumbang laba turun pada tahun ini adalah belum ada penugasan pemerintah kepada Bulog untuk menyerap hasil produksi RNI. Saat itu, Bulog membeli seluruh produksi RNI untuk menstabilkan harga gula yang tinggi di pasar. “Kalau dulu selalu kita sisihkan di akhir tahun stok gula 5 persen,” kata Didik.

Di sisi lain, RNI mengaku menunggu arahan pemerintah perihal penyerapan produksi gula petani yang membuat para petani gula saat ini frustasi. Pasalnya, harga gula yang anjlok membuat para petani rugi besar bahkan terlilit utang karena kebanyakan lahan tebu mereka merupakan lahan sewa. Bila ditugasi, RNI akan membeli gula mereka.

“Kalau enggak ditugasin, ya wong gula kita sendiri aja nggak laku. Gula milik PG. Makanya, kita mau seluruh cabang Nusindo di 42 cabang, kita drop aja gulanya. Yang ritel itu,” ucap Didik.

Tonton video menarik berikut ini:

 

Artikel Selanjutnya
Phapros Kantongi Laba Rp 35,3 Miliar di Semester I
Artikel Selanjutnya
Peruri Cetak Pendapatan Naik 40,75 Persen Jadi Rp 1,33 Triliun