Sukses

Isu Reshuffle Jadi Pemberat Gerak Rupiah

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat pada awal pekan ini. Isu mengenai pergantian menteri menjadi pemberat gerak rupiah. 

Mengutip Bloomberg, Senin (21/8/2017), rupiah dibuka di angka 13.357 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 13,362 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 13.349 per dolar AS hingga 13.362 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah mampu menguat 0,91 persen.

Sedangkan berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 13.355 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan patokan sebelumnya yang ada di angka 13.368 per dolar AS.

Dolar AS memang tertekan sejak beberapa hari terakhir. Namun, tekanan di hari ini tidak sebesar hari-hari sebelumnya. Tekanan terhadap dolar AS terjadi usai kekisruhan di Gedung Putih.

Pada Jumat lalu, Kepala Strategi Donald Trump, Steve Bannon hengkang dari Gedung Putih. Sekretaris Pers Gedung Putih Sarah Huckabee Sanders mengonfirmasi hal tersebut. Namun tak dijelaskan apakah Bannon mengundurkan diri atau dipecat.

Bannon awalnya diberi opsi untuk mundur. Namun belakangan ia dipaksa keluar alias dipecat. Donald Trump dikabarkan beberapa kali menjadikan Bannon sasaran kemarahannya.

Pelaku pasar kembali bertanya-tanya agenda dari Presiden AS Donald Trump dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Dalam kampanye, Trump ingin melakukan berbagai reformasi seperti penurunan pajak dan lainnya.

Sentimen lain yang akan mempengaruhi gerak dolar AS pada hari ini adalah rencana kenaikan suku bunga Bank Sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed).

Rencananya Gubernur Bank Sentral AS Janet Yellen akan melakukan pidato pada pekan ini. Pidato tersebut akan mempengaruhi gerak pelaku pasar jika memang Yellen memberikan sinyal positif akan kenaikan suku bunga.

"Data ekonomi cukup positif, tetapi harus terkonfirmasi dengan pernyataan dari the Fed," jelas analis Daiwa Securities, Tokyo, Jepang, Mitsuo Imaizumi.

Sedangkan ekonom PT Samuel Sekuritas, Rangga Cipta menjelaskan, ada beberapa tekanan yang bisa membuat rupiah tertekan pada hari ini. Sentimen yang paling besar adalah penjabaran data-data dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara APBN) 2018.

"Selain fokus pada rilis APBN 2018, spekulasi adanya reshuffle kabinet yang kemungkinan diumumkan dalam beberapa hari ke depan juga menjadi pemberat rupiah," kata dia.

Tonton Video Menarik Berikut Ini:

Artikel Selanjutnya
Pemerintah Tak Akan Buat Kebijakan yang Bikin Warga Takut Belanja
Artikel Selanjutnya
Golkar: Reshuffle Kabinet Harus Untungkan Rakyat