Sukses

Suku Bunga Acuan Turun Bakal Dorong Pertumbuhan Kredit

Liputan6.com, Jakarta - Langkah Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga acuan atau BI 7-days reverse repo rate menjadi 4,5 persen diharapkan dapat mendorong penyaluran kredit dan pertumbuhan ekonomi.

Ekonom menilai, BI memanfaatkan inflasi dan kredit masih rendah. Selain itu juga risiko kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve yang kecil.

"BI memangkas suku bunga sudah cukup jelas kalau pertimbangan inflasi. Core inflasi relatif rendah," ujar Ekonom PT Bank Permata Tbk Joshua Pardede saat dihubungi Liputan6.com, Rabu (23/8/2017).

Ia menambahkan, BI juga melihat pertumbuhan kredit masih rendah. Hingga semester I 2017 hanya tiga persen pertumbuhan kredit. Oleh karena itu, BI juga merevisi pertumbuhan kredit hanya di kisaran 8-10 persen pada 2017 dari target semula 10-12 persen.

"Pertumbuhan kredit masih bisa digenjot. Apalagi rasio non performing loan di bawah tiga persen," kata Joshua.

Sementara itu, Ekonom BCA David Sumual melihat langkah BI menurunkan suku bunga acuan sebagai antisipasi dari melambatnya ekonomi. Meski demikian, inflasi rendah dan defisit transaksi berjalan terkendali serta rupiah stabil juga menjadi pertimbangan suku bunga turun. "Inflasi Agustus juga akan rendah karena harga makanan turun," ujar David.

Direktur PT Bahana Asset Management Budi Hikmat juga menilai kalau BI juga melihat risiko dampak kenaikan suku bunga bank sentral AS lebih kecil. Hal senada dikatakan David. David mengatakan, the Fed baru menaikkan suku bunga sebanyak dua kali pada 2017. Diperkirakan, kondisi keuangan global stabil membuat dampak risiko kenaikan suku bunga the Fed tidak terlalu besar.

Bank Indonesia (BI) akhirnya memangkas suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 4,5 persen pada pertemuan Rapat Dewan Gubernur (RDG) 21-22 Agustus 2017. Gubernur BI Agus Martowardojo menjelaskan, dalam rapat yang berlangsung pada 21 dan 22 Agustus, Dewan Gubernur BI memutuskan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI 7-day RR Rate) turun menjadi sebesar 4,5 persen dengan suku bunga Deposit Facility turun 25 basis poin menjadi 3,75 persen dan Lending Facility turun 25 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen.

Saksikan Video Menarik di Bawah Ini:

 

1 dari 2 halaman

Suku Bunga Acuan BI 4,5 Persen hingga Akhir 2017

Dengan penurunan suku bunga acuan tersebut, Budi mengharapkan dapat dorong pertumbuhan kredit ke depan. Joshua menuturkan, faktor likuiditas masih aman diharapkan dapat mendorong bank untuk ekspansi menyalurkan kredit ke depan. Ditambah dengan ada penurunan suku bunga.

Seperti diketahui, BI merevisi pertumbuhan kredit menjadi 8-10 persen pada 2017 dari target semula 10-12 persen.

"Pertumbuhan kredit masih cukup lambat hingga akhir tahun. Namun penurunan suku bunga diharapkan diikuti bank untuk ekspansi kredit sehingga pertumbuhannya naik cepat," kata Joshua.

Sedangkan Ekonom Bank DBS Gundy Cahyadi menuturkan, pemangkasan suku bunga acuan BI dilakukan lantaran pertumbuhan kredit masih rendah. Hal itu juga mengabaikan tekanan suku bunga global pada 2018.

Selain itu, Suku bunga acuan BI diprediksi tetap di kisaran 4,5 persen hingga akhir 2017. Joshua menuturkan, ruang pelonggaran BI makin terbatas ke depan. BI masih akan antisipasi pertemuan the Federal Reserve pada September 2017. Selain itu juga antisipasi langkah the Federal Federal Reserve mengurangi neracanya.

"Ruang pelonggaran masih terbatas. Akan tetapi ruang makro prudensial terbuka untuk turun karena kredit relatif lambat," kata Joshua.

Budi memperkirakan, BI masih akan pertahankan suku bunga acuan 4,5 persen hingga akhir 2017. Hal itu mempertimbangkan harapan inflasi 2018. Diperkirakan inflasi sekitar 3,5 persen plus minus satu persen.

Gundy juga prediksi suku bunga acuan di kisaran 4,5 persen hingga 2018. Sedangkan David perkirakan ada kemungkinan penurunan suku bunga acuan lagi bila reaksi pasar positif.

Artikel Selanjutnya
Saham Unggulan Bebani Laju IHSG Selama Sepekan
Artikel Selanjutnya
Menko Darmin Minta Perbankan Turunkan Bunga Kredit Ikuti BI Rate