Sukses

Bursa Saham Asia Melambung Jelang Akhir Pekan

Liputan6.com, Tokyo - Bursa saham Asia menguat pada perdagangan saham Jumat pekan ini. Penguatan bursa saham Asia ini mengikuti wall street.

Menjelang akhir pekan ini, pelaku pasar juga menanti rilis data tenaga kerja Amerika Serikat (AS). Laporan data tenaga kerja sektor non-pertanian seperti sinyal untuk mengetahui arah kebijakan moneter Bank Sentral AS atau the Federal Reserve ke depan.

Sentimen tersebut juga mendorong dolar AS naik terbatas. Sementara di bursa saham Asia, indeks saham MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,2 persen. Indeks saham Australia menanjak 0,35 persen, indeks saham Korea Selatan Kospi mendaki 0,25 persen dan indeks saham Jepang Nikkei menguat 0,4 persen.

Bursa saham Amerika Serikat yang positif memberi tenaga untuk bursa saham Asia. Penguatan bursa saham AS didorong respons positif pelaku pasar terhadap data ekonomi dan harapan terhadap janji Presiden AS Donald Trump untuk melakukan reformasi pajak.

Di pasar uang, dolar AS cenderung naik terbatas. Hal ini lantaran harapan kenaikan suku bunga the Federal Reserve tidak terlalu agresif. Dolar AS naik 0,15 persen menjadi 110,13 terhadap yen. Adapun euro berada di kisaran US$ 1,1909.

Pasar keuangan kini fokus menanti rilis data tenaga kerja AS menjelang akhir pekan ini. Berdasarkan survei Reuters, data tenaga kerja di sektor non-pertanian diharapkan naik 180 ribu pada Agustus.

"Komponen upah dan laporan pekerjaan akan menjadi kunci. Jika pendapatan menguat diikuti data tenaga kerja, ada kemungkinan bursa saham dan imbal hasil obligasi naik, dan dolar AS dibeli," jelas Analis IG Securities, Junichi Ishikawa, seperti dikutip dari laman Reuters, Jumat (1/9/2017).

Adapun indeks dolar AS terhadap sejumlah mata uang berada di kisaran 92,62. Indeks saham dolar AS sempat tergelincir 0,2 persen pada Kamis waktu setempat.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah Amerika Serikat turun tipis ke level US$ 47,01 per barel usai melonjak 2,8 persen. Sedangkan harga emas di pasar spot stabil di kisaran US$ 1.312 per ounce.

 

Saksikan Video Menarik di Bawah Ini:

Artikel Selanjutnya
Bursa Asia Melemah Dipicu Sentimen Teror Barcelona
Artikel Selanjutnya
Bursa Asia Rebound dari Pelemahan 3 Sesi