Sukses

 Ketegangan Korea Utara Bikin Harga Emas Dekati Level Tertinggi

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas melonjak ke titik tertinggi dalam dua belas bulan karena investor memburu aset-aset safe haven. ketegangan akibat uji coba rudal Korea Utara menjadi penyebab utama kenaikan harga emas.

Mengutip CNBC, Selasa (5/9/2017), harga emas naik sekitar 1 persen ke level US$ 1.338,16 per troy ounce pada pukul pada perdagangan Senin pukul 09.30 waktu London. Harga tertinggi yang pernah ditorehkan dalam setahun terakhir adalah US$ 1.338,48 yang dicapai pada 24 September tahun lalu.

Harga emas sedikit turun pada perdagangan siang dan kemudian bergerak di kisaran US$ 1.334,48 per troy ounce.

Reli harga emas terus terjadi dalam beberapa hari terakhir usai pelaku pasar memburu aset safe haven. Harga emas melonjak bersamaaan dengan nilai tukar yen Jepang dan franc Swiss. Kenaikan instrumen investasi ini menyusul uji coba rudal terbaru Korea Utara pada akhir pekan lalu.

"Jika ketegangan di Asia terus meningkat karena aktivitas Korea Utara, emas dan aset safe haven lain akan dengan mudah terus melonjak. Namun kebalikannya, jika ketegangan menurun maka harga emas juga akan gampang tertekan," jelas analis ABN Amro Georgette Boele.

"Kami melihat pemulihan dolar AS akan mendorong harga emas turun mendekati level US$ 1.300 per troy ounce dalam waktu dekat lagi. Ini dengan asumsi kami tidak berharap ketegangan di Korea Utara terus berlanjut," tambah dia.

Tonton Video Menarik Berikut Ini:

Ancaman AS

Menteri Pertahanan Amerika Serikat, James Mattis, memberi pernyataan tegas terhadap Korea Utara. Ia mengatakan, seluruh ancaman Korut terhadap AS dan sekutunya, akan ditanggapi dengan respons militer besar-besaran.

Pernyataannya tersebut disampaikan setelah Mattis melakukan pertemuan keamanan dengan Presiden AS Donald Trump tentang uji coba nuklir terakhir oleh Korea Utara.

Pada 3 September 2017, Pyongyang mengatakan bahwa negaranya telah berhasil menguji coba bom hidrogen yang dapat diangkut rudal jarak jauh.

Menanggapi hal tersebut, Mattis mengatakan bahwa AS memiliki kemampuan untuk mempertahankan diri dan sekutunya, yakni Korea Selatan dan Jepang, dari ancaman Korut. Ia menambahkan, komitmennya tak dapat diubah.

"Ancaman apa pun terhadap Amerika Serikat atau teritorinya -- termasuk Guam -- atau negara sekutu kami, harus berhadapan dengan respons militer besar-besaran, respons yang efektif dan membuat kewalahan," ujar Mattis di luar Gedung Putih seperti dikutip dari BBC, Senin (4/9/2017).

Meski demikian, Mattis masih berharap bahwa Korut akan melakukan denuklirisasi.

 

Artikel Selanjutnya
Bursa Asia Tertekan Imbas Uji Coba Bom Korea Utara
Artikel Selanjutnya
Korea Utara Uji Coba Rudal, Harga Emas Melonjak