Sukses

IHSG Dibuka Menguat, Tekanan Jual Masih Terlihat

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada awal perdagangan Selasa pekan ini. Ketegangan di Semenanjung Korea tetap menjadi fokus pelaku pasar pada perdagangan hari ini. 

Pada pembukaan perdagangan saham, Selasa (5/9/2017), IHSG menguat 17,41 poin atau 0,29 persen ke level 5.829,13. Indeks saham LQ45 naik 0,29 persen ke 969,96. Seluruh indeks saham acuan berada di zona hijau.

Ada sebanyak 101 saham menguat sehingga mendorong IHSG ke zona hijau. Sedangkan 39 saham melemah sehingga menahan penguatan indeks. Selain itu, 92 saham lainnya diam di tempat. IHSG sempat berada di level tertinggi 5.834,18 dan terendah 5.820,39.

Total frekuensi perdagangan saham sekitar 11.352 kali dengan volume perdagangan saham 399 juta saham. Nilai transaksi harian saham Rp 234 miliar.

Investor asing melakukan aksi jual Rp 11,52 miliar di pasar reguler. Posisi dolar Amerika Serikat berada di posisi Rp 13.328.

Secara sektoral, seluruh sektor saham menguat. Sektor saham pertambangan naik 0,50 persen, dan alami penguatan terbesar. Disusul sektor saham keuangan menguat 0,44 persen dan sektor saham perdagangan melonjak 0,35 persen.

Saham-saham yang catatkan penguatan terbesar antara lain saham CMPP mendaki 24,47 persen ke posisi Rp 590 per saham, saham VICO menanjak 13,01 persen ke level Rp 330 per saham, dan saham KPIG melonjak 10,87 persen ke level Rp 1.275 per saham.

Sedangkan saham-saham yang tertekan antara lain saham BIMA susut 9,78 persen ke level Rp 83 per saham, saham ASJT tergelincir 4,05 persen ke posisi Rp 710 per saham, dan saham PRAS merosot 4 persen ke level Rp 240 per saham.

Di kawasan Asia, sebagian besar indeks acuan bergerak melemah pada pembukaan perdagangan Selasa pekan ini. Ketegangan di Semenanjung Korea membuat investor berhati-hati dalam bertransaksi.

Indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,15 persen di awal perdagangan. Indeks Kospi Korea Selatan mampu menguat tipis 0,1 persen setelah pada sesi perdagangan sebelumnya ditutup turun lebih dari 1 persen.

Indeks S&P/ASX 200 Australia juga melemah 0,58 persen didorong oleh sektor energi dan utilitas. Saham dari bank-bank besar juga mengalami tekanan yang cukup dalam yang membuat sektor keuangan terjatuh 0,62 persen.

Ketegangan di Semenanjung Korea tetap menjadi fokus pelaku pasar pada perdagangan hari ini. Korea Utara pada akhir pekan lalu menguji bom hidrogen pada akhir pekan lalu.

Berdasarkan riset DBS, Presiden Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan, Trump dan Moon-Jae setuju untuk memaksimalkan tekanan terhadap Korea Utara. Pada pertemuan United Nations Security Council, Nikki Haley, seorang ambassador AS berpendapat bahwa Korea Utara secara tidak langsung sedang meminta agar perang dimulai dengan melakukan uji coba pada bom hidrogen.

Haley akan mempersiapkan proposal kepada United Nations Security Council untuk menambahkan sanksi baru bagi Korea Utara. Trump setuju atas penjualan senjata kepada Korea Selatan dengan jumlah miliaran dolar AS.

Analis PT Reliance Securities Lanjar Nafi mengatakan IHSG akan bergerak variasi. IHSG akan bergerak di kisaran 5.764-5.850. Lanjar menilai, secara teknikal IHSG tidak berhasil menguji level support moving average 20 hari hingga sentuh level support MA 50 hari.

"Indikator bergerak tertekan hingga pada area jenuh jual namun tekanan jual masih terlihat yang cukup signifikan," ujar Lanjar.

Tonton Video Menarik Berikut Ini:

Artikel Selanjutnya
Sektor Tambang Dorong IHSG Melaju ke Zona Hijau
Artikel Selanjutnya
IHSG Berpotensi Naik, Cermati Saham Pilihan Ini