Sukses

Keputusan Bank Sentral Eropa Dorong Penguatan Rupiah

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat pada perdagangan Jumat ini.

Mengutip Reuters, Jumat (8/9/2017), rupiah dibuka di angka 13.293 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 13.307 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah diperdagangkan di kisaran 13.199 per dolar AS hingga 13.297 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah mampu menguat 1,43 persen.

Sedangkan berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jidsor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 13.284 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan patokan sehari sebelumnya yang ada di angka 13.331 per dolar AS.

Dolar AS memang tertekan pada perdagangan hari ini baik di kawasan Asia maupun Eropa. Pelemahan dolar AS ini membuat rupiah perkasa.

Euro mencapai level tertinggi terhadap dolar AS karena optimisme pelaku pasar akan hasil pertemuan Bank Sentral Eropa. Hasil pertemuan tersebut membuat pelaku pasar melakukan aksi beli terhadap euro.

Gubernur Bank Sentral Eropa Mario Draghi memberikan petunjuk bahwa mereka akan mengeluarkan kebijakan pada Oktober nanti. Hal tersebut memberikan kepastian kepada pelaku pasar.

Mario mengatakan bahwa Bank Sentral Eropa akan mempertahankan suku bunga rendah dan membuka pintu untuk menjalankan kebijakan pembelian obligasi untuk menggelontorkan likuiditas ke pasar.

"Sebagian besar lonjakan euro karena reaksi terhadap kebijakan Bank Sentral Eropa," jelas branch manager State Street Bank and Trust, Tokyo, Jepang, Bart Wakabayashi.

Sedangkan di Asia, Dolar AS tertekan terhadap yen karena pelaku pasar masih mengoleksi aset safe haven. Adanya ketegangan terkait Korea Utara membuat pelaku pasar melepas aset dolar AS mereka.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

1 dari 2 halaman

volatilitas

Bank Indonesia (BI) menyatakan, kondisi pasar uang saat ini cukup stabil. Gejolak nilai tukar rupiah kurang dari 3 persen dan berbanding terbalik dengan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) yang trennya menunjukkan pelemahan.

"BI sudah lama sekali tidak intervensi. Pasarnya memang stabil, volatilitas kurs juga rendah di bawah 3 persen," ujar Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityaswara kemarin.

Mirza menambahkan, gonjang-ganjing kenaikan suku bunga The Fed di 2013 menyebabkan volatilitas rupiah di atas 10 persen. Sedangkan sekarang ini, hanya di bawah 3 persen.

"BI sudah lama tidak masuk ke pasar untuk intervensi atau stabilisasi. Jadi demand dan supply saja, ada demand dari importir, demand dari yang bayar valuta asing," ucapnya.

"Tapi supply datang dari eksportir, supply datang dari aliran dana masuk (capital inflow), kemudian masuk ke pasar modal, pasar obligasi negara juga banyak, sehingga kelebihan permintaan. Jadi demand dan supply match tanpa BI harus lakukan stabilisasi," jelas Mirza.

Ia mengaku, ada aliran dana keluar di pasar saham. Namun itu terkompensasi dari derasnya aliran dana masuk di pasar surat berharga negara (SBN). Surat utang negara, katanya, masih menarik dengan kenaikan harga dan imbal hasil (yield) turun.

"Pasar saham memang agak outflow, tapi di pasar SBN inflow masih deras. Surat utang negara masih menarik sehingga harganya naik dan yield turun, sudah mendekati 0,5 persen sampai akhir tahun, inflow dari komponen balance of payment masih berlanjut, ekspor impor barang dan jasa surplus, sehingga kurs stabil saja," terangnya.

Artikel Selanjutnya
Tak Ada Sinyal Kenaikan Suku Bunga, Rupiah Bergerak Menguat
Artikel Selanjutnya
Saham Unggulan Bawa IHSG Cetak Rekor