Sukses

Pertumbuhan Kredit 2018 Bisa Capai 14 Persen, Ini Pendorongnya

Liputan6.com, Jakarta -  

Otoritas keuangan seperti Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memprediksi pertumbuhan kredit pada tahun depan bakal tinggi. BI sendiri memperkirakan pertumbuhan kredit bisa mencapai 12 persen-14 persen di 2018.

Ketua Komisioner LPS Halim Alamsyah menyatakan pertumbuhan kredit yang lebih baik bisa saja terjadi pada tahun depan. Salah satunya didorong oleh pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan lebih baik di 2018.

"S‎aya kira kita lihat nanti. Kalau dilihat dari angka-angka p‎ertumbuhan lebih baik tahun depan. Inflasi tetap akan terjaga. Ekonomi membaik, confidence dari dunia usaha membaik, daya beli juga naik. Saya kira permintaan kredit akan naik," ujar di Kantor LPS, Jakarta, Kamis (14/9/2017).

Menurut dia, sektor yang akan berkontribusi pada pertumbuhan kredit yaitu industri manufaktur. Namun hal ini juga harus ditopang oleh kinerja ekspor yang diharapkan semakin membaik di akhir tahun ini.‎

"Kita berharap sebetulnya tahun ini itu ada perbaikan terutama, industri yang menghasilkan barang-barang ekspor karena kita tahu Eropa, AS‎, Jepang itu membaik. Kita berharap beberapa produk kita masih tetap kompetitif. Tapi ini memang harus dilihat kemampuan dari supplier kita untuk respons kenaikan permintaan ini," jelas dia.

Halim juga berharap perbankan dalam negeri bisa bersiap dengan meningkatkan permintaan kredit ini. Dengan demikian, pertumbuhan kredit yang diperkirakan bisa berdampak positif bagi perekonomian.‎

"Kita berharap bank-bank siap-siap. Mereka juga sampai sekarang relatif mereka, itu menaruh uangnya lebih banyak di BI.‎ Ini sejalan dengan perkiraan BI," tandas dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

1 dari 2 halaman

Bunga turun

Faktor lain yang mampu mendorong pertumbuhan kredit adalah penurunan bunga. Langkah Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga acuan atau BI 7-days reverse repo rate menjadi 4,5 persen diharapkan dapat mendorong penyaluran kredit dan pertumbuhan ekonomi.

Ekonom menilai, BI memanfaatkan inflasi dan kredit masih rendah. Selain itu juga risiko kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve yang kecil.

"BI memangkas suku bunga sudah cukup jelas kalau pertimbangan inflasi. Core inflasi relatif rendah," ujar Ekonom PT Bank Permata Tbk Joshua Pardede saat dihubungi Liputan6.com.

Ia menambahkan, BI juga melihat pertumbuhan kredit masih rendah. Hingga semester I 2017, hanya tiga persen pertumbuhan kredit. Oleh karena itu, BI juga merevisi pertumbuhan kredit hanya di kisaran 8-10 persen pada 2017 dari target semula 10-12 persen.

"Pertumbuhan kredit masih bisa digenjot. Apalagi rasio non performing loan di bawah tiga persen," kata Joshua.

Sementara itu, Ekonom BCA David Sumual melihat langkah BI menurunkan suku bunga acuan sebagai antisipasi dari melambatnya ekonomi. Meski demikian, inflasi rendah dan defisit transaksi berjalan terkendali serta rupiah stabil juga menjadi pertimbangan suku bunga turun. "Inflasi Agustus juga akan rendah karena harga makanan turun," ujar David.

Direktur PT Bahana Asset Management Budi Hikmat juga menilai kalau BI juga melihat risiko dampak kenaikan suku bunga bank sentral AS lebih kecil.

Hal senada dikatakan David. David mengatakan, the Fed baru menaikkan suku bunga sebanyak dua kali pada 2017. Diperkirakan, kondisi keuangan global stabil membuat dampak risiko kenaikan suku bunga the Fed tidak terlalu besar.

Artikel Selanjutnya
BI Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Kredit Bank
Artikel Selanjutnya
BPS: Konsumsi Rumah Tangga Masih Kuat