Sukses

Pertumbuhan Ekonomi Dorong Konsumsi Energi RI

Liputan6.com, Jakarta - British Petroleum‎ (BP) mencatat konsumi energi Indonesia mengalami pertumbuhan sekitar 5,9 persen pada 2016. Pertumbuhan tersebut paling cepat dalam 5 tahun terakhir.

BP Group Chief Economist‎ Spencer Dale mengatakan, ‎konsumsi energi Indonesia sebesar 5,9 persen pada 2016. Angka tersebut meningkat dua kali lipat dalam 20 tahun terakhir.‎ Capai tersebut juga meningkat cepat dalam 5 tahun terakhir.

"Konsumsi energi primer Indonesia 5,9 persen, tumbuh pada tingkat tercepat dalam 5 tahun terakhir, pada 2016," kata Dale, dalam‎ Statistical Review of World Energy 2017‎, di Kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jakarta, Kamis (14/9/2017).

Menurut Dale, pertumbuhan konsumsi terebut diakibatkan oleh pertumbuhan ekonomi Indonesia yang membutuhkan tambahan energi, selain itu upaya efisiensi energi belum dilaksanakan dengan baik.

"Pertumbuhan konsumsi energi‎ sangat kuat dipengaruhi pertumbuhan ekonomi, efisiensi di Indonesia masih sedikit," ujarnya.

Konsumsi energi yang mengalami pertumbuhan signifikan adalah batu bara yang mencapai 22,2 pesen. Sedangkan produksinya malah mengalami penurunan 6,2 persen pada 2016.

Dale melanjutkan, untuk konsumsi gas bumi mengalami menurunan 7 persen pada 2016, penurunan tersebu menempati tingkat terendah sejak 2007.

"Pada 2016, rasio produksi batu bara terhadap konsumsi turun tajam menjadi 408 persen dibandingkan dengan 532 persen pada tahun 2015," tutup Dale.

 Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

1 dari 2 halaman

Pertumbuhan ekonomi RI

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II 2016 mencapai 5,18 persen (year on year). Angka ini lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi di kuartal I tahun ini sebesar 4,92 persen.

Sementara secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,04 persen di semester I. Dengan nilai produk domestik bruto (PDB) sebesar Rp 2.352,2 triliun atas dasar harga konstan (ADHK) dan Rp 3.086,6 triliun atas dasar harga berlaku (ADHB).

Kepala BPS Suryamin menuturkan, pertumbuhan ekonomi di kuartal II masih dipengaruhi berbagai kondisi di pasar global dan lokal. Seperti harga komoditas di pasar internasional yang mulai meningkat. "Harga berbagai komoditas pasar internasional tren meningkat seperti kopi, kedelai dan minyak," ujar dia Agustus lalu.

Sementara pertumbuhan ekonomi di beberapa negara yang selama ini menjadi mitra dagang Indonesia masih bervariasi. Seperti ekonomi AS yang melambat dari 1,6 persen menjadi 1,2 persen.

Kemudian ekonomi Tiongkok yang stagnan di 6,7 persen. Pertumbuhan ekonomi Singapura yang menguat dari 2,1 persen menjadi 2,2 persen. Demikian pula ekonomi Korea Selatan yang naik dari 2,8 persen menjadi 3,1 persen.

Artikel Selanjutnya
RI Harus Tarik Investasi Rp 799 T agar Ekonomi Tumbuh 5,4 Persen
Artikel Selanjutnya
Ini Syarat bila RI Ingin Ekonomi Tumbuh 5,2 Persen