Sukses

Mengintip Runtuhnya Bisnis Ritel di AS

Liputan6.com, Jakarta - Lesunya bisnis ritel tidak hanya dirasakan di Indonesia. Negara adidaya Amerika Serikat (AS) pun mengalami hal ini. Parahnya, bisnis ritel di Negeri Paman Sam tidak hanya membuat toko-toko sepi. Beberapa perusahaan yang bergerak di bidang ini juga harus rela gulung tikar.

Mengutip Business Insider, Minggu (24/9/2017), lebih dari 6.400 toko ritel diprediksi akan tutup di 2017. Pusat perbelanjaan terkenal seperti Macy's, Sears dan JCPenny sudah menutup belasan tokonya di beberapa tempat.

Saat memasuki mal di Amerika Serikat, hawa mengerikan akan merasuki diri pengunjung. Pasalnya, banyak pusat perbelanjaan yang sudah ramai ditinggal pembeli. Sebagian besar tenant yang ada di sana juga memutuskan untuk menutup gerai.

Penyebab runtuhnya bisnis retail di Amerika Serikat adalah karena konsumen yang lebih memilih berbelanja online. Laporan lembaga riset properti Cushman & Wakefield mengungkap, jumlah kunjungan ke mala menurun drastis dari tahun 2010 hingga 2013 sebesar 50 persen.

Departemen Perdagangan AS melaporkan bahwa aktivitas belanja online meroket pada April dengan peningkatan sebesar 11,9 persen year-on-year.

"Ini adalah pertumbuhan yang terjadi di hampir seluruh wilayah," ucap Ketua sebuah perusahaan konsultan ritel Davidowitz & Associates Howard Davidowitz di New York.

Salah satu mal yang sudah tidak berfungsi di Amerika Serikat adalah Chicago's Lincoln Mall. Sejak ditutup dua tahun yang lalu, mal ini sudah berubah menjadi gedung tak terpakai seperti sebuah gurun yang menakutkan dan sepi.

Mal ini tutup setelah banyak toko ritel yang memutuskan menutup gerainya.

Tidak hanya mal, toko ritel juga banyak yang berjuang untuk bertahan akibat penjualan yang terus terpuruk. Jika mengunjungi perusahaan ritel seperti Sears, Kmart hingga Macy's pengunjung akan disodorkan pemandangan toko yang sepi. Beberapa barang juga diobral dengan harga miring demi penghabisan stok.

Macy's yang dahulu menjadi pusat perbelanjaan primadona warga AS kini harus menerima nasib nahas. Perusahaan ini mengumumkan akan menutup cabangnya di 68 lokasi berbeda sepanjang tahun 2017.

Hal serupa juga terjadi pada Toko sepatu Payless dan Crocs. Payless dikabarkan menutup 808 cabangnya, sementara 160 cabang Crocs di AS juga mengalami nasib yang sama.

Penjualan department store AS di April menyusut 3,7 persen year-on-year, menjadi penurunan terbesar dalam dua tahun terakhir menurut Departemen Perdagangan. Disebutkan penjualan barang-barang olahraga, hobi, musik dan toko buku ambruk sebesar 2,4 persen.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

1 dari 2 halaman

Penampakan mal yang tutup di AS

 Penampakan Chicago's Lincoln Mall yang diambil oleh fotografer Seph Lawless dan beberapa mal lain yang mengalami penurunan pengunjung.

 

 

 

 

 

Artikel Selanjutnya
Bursa Asia Tertekan Ikuti Wall Street
Artikel Selanjutnya
Pertumbuhan Ekonomi AS Bikin Wall Street Menguat