Sukses

Rupiah Masih Terdampak Penurunan Suku Bunga BI

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah pada perdagangan hari ini. Pelemahan nilai tukar rupiah ini karena penurunan suku bunga acuan.

Mengutip Bloomberg, Selasa (26/9/2017), rupiah dibuka di angka 13.342 per dolar AS, melemah jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 13.325 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 13.334 per dolar AS hingga 13.368 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah mampu menguat 0,90 per dolar AS.

Sedangkan berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisor) Bank Indonesia (BI) rupiah dipatok di angka 13.348 per dolar AS, melemah jika dibandingkan dengan patokan sehari sebelumnya yang ada di angka 13.305 per dolar AS.

Research Analyst ForexTime Lukman Otunuga menjelaskan, pasar finansial benar-benar dikejutkan pada hari Jumat setelah Bank Indonesia tanpa diduga memangkas suku bunga acuan utama untuk bulan kedua berturut-turut di bulan September.

BI memangkas suku bunga 7-day repo sebesar 25 basis poin menjadi 4,25 persen untuk mendorong pertumbuhan kredit dan konsumsi. Langkah mengejutkan dari BI juga menunjukkan keyakinan BI dalam mempersiapkan kebijakan moneter AS yang lebih ketat dan mengatasi inflasi domestik.

Rupiah melemah terhadap Dolar AS di hari Jumat pasca pemangkasan suku bunga dan ini berlanjut di sesi perdagangan hari Senin.

"Spekulasi kenaikan suku bunga AS di bulan Desember memperkuat Dolar AS sehingga mata uang pasar berkembang termasuk rupiah berpotensi melemah," jelas dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

1 dari 2 halaman

BI turunkan suku bunga

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan. Langkah bank sentral memangkas suku bunga acuan ini konsisten dengan adanya ruang pelonggaran kebijakan moneter dengan rendahnya realisasi dan prakiraan inflasi.

Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter BI Dody Budi Waluyo menjelaskan, Dewan Gubernur memutuskan untuk menurunkan BI 7-day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin dari 4,5 persen menjadi 4,25 persen, dengan suku bunga Deposit Facility turun 25 basis poin menjadi 3,50 persen dan Lending Facility turun 25 basis poinmenjadi 5 persen. Keputusan ini berlaku efektif sejak 25 September 2017.

"Kebijakan penurunan suku bunga ini konsisten dengan adanya ruang pelonggaran kebijakan moneter dengan rendahnya realisasi dan prakiraan inflasi tahun 2017 dan 2018," jelas dia di gedung BI, Jakarta, (22/9/2017).

Dody melanjutkan, prospek perekonomian global diperkirakan semakin membaik terutama di negara maju. Pertumbuhan ekonomi AS diperkirakan lebih tinggi sejalan dengan perbaikan permintaan domestik.

Demikian pula, pertumbuhan ekonomi di Eropa membaik seiring dengan peningkatan aktivitas konsumsi dan penurunan ketidakpastian sektor keuangan. Di

negara berkembang, perekonomian China diperkirakan tumbuh lebih baik didukung oleh konsumsi yang kuat dan penyaluran kredit yang meningkat. Peningkatan pertumbuhan di China diperkirakan dapat mengkompensasi penurunan pertumbuhan di India.

Artikel Selanjutnya
Penurunan Suku Bunga Acuan Bakal Dongkrak Investasi
Artikel Selanjutnya
Suku Bunga Acuan Turun Bakal Dorong Pertumbuhan Kredit