Sukses

Laju IHSG Tertekan Selama Sepekan

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah selama sepekan didorong saham-saham yang masuk indeks LQ45 atau terlikuid.

Mengutip laman PT Ashmore Asset Management Indonesia, Sabtu (29/9/2017), IHSG turun 0,18 persen dari posisi 5.911 pada 22 September 2017 menjadi 5.900 pada 29 September 2017. Investor asing masih melakukan aksi jual di pasar saham. Aksi jual investor asing mencapai US$ 101 juta.

Sementara itu, indeks obligasi atau surat utang susut 0,61 persen secara mingguan. Imbal hasil surat utang pemerintah bertenor 10 tahun naik menjadi 6,51 persen seiring ada pelaku pasar ambil untung. Di pasar obligasi, investor mencatatkan aksi beli mencapai US$ 123 juta.

Adapun sejumlah sentimen mempengaruhi pasar keuangan, baik global dan internal. Dari global, rencana reformasi pajak Amerika Serikat (AS) menjadi katalis positif di pasar keuangan.

Rencana pajak yang ambisius dengan usulan pemotongan pajak bagi individual dan perusahaan menjadi angin segar. Usulan proposal reformasi pajak itu disusun oleh pejabat Partai Republik dan Kongres. Salah satu poin reformasi pajak itu dengan pemotongan pajak perusahan dari 35 persen menjadi 20 persen.

Selain itu, kebijakan the Federal Reserve juga menjadi perhatian pasar. Pimpinan the Federal Reserve melihat inflasi dan kenaikan suku bunga.

Dalam sebuah pidato, Yellen mengatakan secara bertahap menaikkan suku bunga merupakan kebijakan yang tepat di tengah ketidakpastian inflasi. Ini memperkuat perkiraan the Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga pada 2017.

Perkembangan di Korea Utara juga tak luput dari perhatian pelaku pasar. Korea utara menyarankan untuk menguji bom hidrogren. Ini sebagai tanggapan atas ancaman tindakan militer AS oleh Donald Trump. Menteri Luar Negeri Korea Utara telah memperingatkan hal tersebut.

Dari Eropa, Kanselir Jerman Angela Merkel kembali memenangkan pemilihan di Jerman. Keempat kalinya, Merkel memenangkan pemilihan tersebut. Namun, pasar bereaksi negatif terhadap Merkel yang menang pemilihan umum karena partainya CDU perlu membentuk koalisi untuk tetap mayoritas di parlemen.

Sentimen dari internal, Bank Indonesia (BI) kembali pangkas suku bunga acuan 25 basis poin (bps). Langkah BI tersebut cukup mengejutkan seiring konsensus pasar menyatakan kalau tingkat suku bunga acuan tetap 4,5 persen.

Tingkat suku bunga acuan telah berkurang 200 bps sejak Januari 2016. BI harap penurunan suku bunga acuan dapat memperkuat pemulihan ekonomi domestik dan pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, kekhawatiran Menteri Keuangan Sri Mulyani terhadap meningkatnya risiko utang PLN juga menjadi perhatian pasar pada pekan ini.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

1 dari 2 halaman

Selanjutnya

Kemudian apa yang dicermati ke depan? Salah satu obligasi. Ashmore melihat fundamental pasar obligasi masih mendukung kenaikan jangka pendek. Ini membuat peluang besar untuk masuk ke obligasi.

Ada sejumlah sentimen pengaruhi pasar obligasi, yaitu suku bunga acuan Bank Indonesia kembali turun jadi 4,25 persen, pernyataan pejabat the Federal Reserve yang agresif soal suku bunga. Kemudian, rencana reformasi pajak. Hal ini mendorong imbal hasil obligasi bertenor 10 tahun smepat turun ke level 6,28 persen. Angka itu terendah dalam 52 minggu.

Sejumlah katalis akan pengaruhi pasar obligasi antara lain inflasi. Dengan inflasi rendah dapat membuka peluang penurunan suku bunga lebih lanjut. Ini dapat menjadi alasan untuk dorong kenaikan harga obligasi.

Selain itu, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga pengaruhi pasar. Apalagi dolar AS cenderung menguat seiring rencana reformasi pajak Presiden AS Donald Trump dan dolar AS menguat.

Artikel Selanjutnya
Tekanan Jual Masih Besar, IHSG Bakal Bervariasi
Artikel Selanjutnya
IHSG Berpotensi Naik, Cermati Saham Pilihan Ini