Sukses

Harga Minyak Naik Dipicu Kunjungan Raja Salman ke Moskow

Liputan6.com, Jakarta Harga minyak berakhir lebih mahal pada perdagangan Kamis kemarin. Hal ini didukung oleh pembicaraan mengenai perpanjangan kesepakatan untuk mengurangi produksi.

Pengurangan pasokan di Amerika Serikat dan kekhawatiran akan produksi di mana Teluk Meksiko berpotensi terkena badai juga menjadi pemicu naiknya harga.

Pedagang, bagaimanapun tetap khawatir dengan produksi domestik yang mencapai tingkat tertinggunya dalam 2 tahun terakhir di pekan lalu, seperti dilansir dari Marketwatch, Jumat (6/10/2017).

Di bursa New YOrk Mercantile Exhange, harga minyak acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate untuk pengiriman November naik 81 sen atau 1,6 persen untuk menetap di level US$ 50,79 per barel. Menyusul sebelumnya mengalami penurunan 3 sei berturut-turtut.

Sementara harga minyak acuan dunia, Brent untuk pengiriman Desember naik US$ 1,2 per barel at 2,2 persen dan berakhir di harga US$ 57 per barel yang diperdagangkan dalam bursa London ICE FUtures.

Produsen minyak Exxon Mobil mengevakuasi staff dan pekerjanya dan Chevron menutup dau platformnya menyusul Teluk Meksiko berpotensi dihantam badai. Diperkirakan badai tersebut akan datang akhir pekan ini menuju Teluk Meksiko dan bergerak ke tengah teluk di mana akan mengancam produksi minyak dan kilang di area tersebut.

Sementara itu, Raja Arab Saudi, Salman mengunjungi Moskow Rusia. Pertemuan antara anggota penting OPEC dan non OPEC ini diharapkan akan membahas mengenai kelanjutan pemangkasan produksi minyak. Dengan begitu, harga minyak terkena sentimen positif.

Artikel Selanjutnya
Persediaan di AS Turun, Harga Minyak Melambung
Artikel Selanjutnya
Harga Minyak Melonjak 3 Persen karena Aktivitas Pengeboran Turun